Sultan Abdul Hamid II; Aktualisasi Nilai Islam Dalam Ranah Politik Modern

Jumat, 28 Agustus 2009

Islam dan politik adalah dua suku kata yang sangat familiar. Dalam diskusi dan kajian politik keduanya sering hadir secara bersamaan. Kedua istilah ini mampu menyedot perhatian para intelektual untuk membahasnya. Sebagian orang malah melabelkan Islam untuk dipasangkan dengan kata politik –politik Islam-. Walaupun demikian halnya, pada realita peta politik di zaman modern tetap saja dua istilah ini dipandang ibarat dua sisi simetris rel kereta api yang sulit untuk dipertemukan.
Dalam bahasa politik ada sebuah adagium yang seakan sudah menjadi manifesto para politisi; "Tak ada yang abadi dalam politik, kecuali kepentingan". Disisi lain, Islam berbicara atas dasar prinsip-prinsip idealis yang bersifat absolut, dan semuanya itu terangkum dalam Alquran dan Hadist. Dua kitab suci yang senantiasa dipegang teguh setiap muslim sebagai sumber hukum mutlak yang tak dapat dibantah.

Dinamika ideologi politik modern cenderung bersifat pragmatis karena bersumber dari proses perenungan dan pemikiran kaum intelektual yang tidak mungkin melepaskan diri dari tandensi-tandensi pihak tertentu. Sedangkan Islam, ialah sebuah produk penuntun yang langsung bersumber dari Allah swt, Pencipta dan Pengatur manusia dan tentunya Maha Tahu dengan kebutuhan makhluknya.
Dan menurut Sayyid Quthb, pemerintah yang tidak menerapkan Islam sebagai UU disebut sebagai Masyarakat Jahilliah. (Hidayat, Nuim. 2005. Sayyid Quthb, Biografi dan Kejernihan Pemikirannya. Jakarta: Gema Insani Press). Dalam sejarah politik modern, sistem pemerintahan yang pure mengambil dua sumber hukum yang datang dari Allah swt sebagai Undang-Undang (UU) tidaklah pernah kita temukan. Namun kenyataan tersebut bukanlah sebuah ketidak niscayaan akan adanya pemerintah yang mengadopsi nilai-nilai Islam untuk diterapkan dalam prilaku politik.
Abdul Hamid (1842-1918 M) adalah salah satu contoh ideal dari sosok pemimpin yang mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam perjalanan karir politiknya sebagai penguasa kesultanan Utsmaniyyah. Walaupun pada masa pemerintahannya sistem pemerintahan Barat sudah kuat, karena proses infiltrasi sistem pemerintahan Barat sudah diterapkan oleh sultan sebelumnya. Namun westernisasi sistem pemerintahan Khilafah yang berimplikasi terhadap prilaku politisi menjadi pribadi pragmatis dan opurtunis tidaklah mengubah kepribadian Abdul Hamid sebagai seorang pemimpin muslim yang idealis dan teguh dalam memegang prisip keislamannya.
Abdul Hamid adalah salah seorang putra dari Sultan Abdul Madjid, Sultan dari keluarga Utsman yang pada masa pemerintahannya kesultanan Utsmaniyyah untuk pertama kali mengadopsi sistem pemerintahan yang berasal dari Barat (Eropa). Ia mengganti sistem struktur Diwan yang selama ini dijalankan oleh pemerintahan Utsmaniyyah dengan sistem al-Bab al-‘Aliy, yaitu semacam sistem kabinet atau dewan menteri.
Pada masa kecilnya, Abdul Hamid belajar ilmu dasar kepada ayahnya. Selain mempelajari bahasa Arab dan Parsia, ia juga dengan tekun mempelajari sastra. Kepribadiannya sangat kuat walaupun ia tinggal ditengah arus westernisasi yang saat itu tengah gencar di Turki. Beliau tinggal di wisma kesultanan yang menjaganya dari segala tindak tanduk negatif dan pengaruh buruk dari kebudayaan Eropa.
Abdul Hamid menduduki kursi kesultanan Utsmaniyyah pada pada tanggal 31 Agustus 1876 M, menggantikan saudaranya sultan Murad. Dan setelah itu ia diberi gelar, Sultan Abdul Hamid II.
Abdul Hamid II dan Umat
Selama masa kepemimpinannya, Sultan Abdul Hamid II senantiasa dihadapkan dengan pelbagai permasalahan kenegaraan yang sangat rumit, yang jika tidak diselesaikan dengan tepat akan mengancam eksistensi kekhilafahan Turki Utsmaniyyah waktu itu. Pelbagai macam kekacauan dalam segala aspek tersebut bukan hanya berasal dari faktor interen -kalangan pejabat pemerintahan yang haus kekuasaan serta ancaman disintegrasi daerah yang jauh dari pusat pemerintahan Utsmaniyyah-, namun yang lebih mengancam adalah rongrongan kebencian dan kerakusan dari eksteren Eropa yang bermaksud menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmaniy.
Dalam menyelesaikan semua konflik yang datang, Abdul Hamid II senantiasa mementingkan pendekatan persuasif dalam pemecahan permasalahan dalam negerinya. Ia senantiasa menyebarkan ide-ide pemersatuan semua kelompok yang berada dalam kekuasaan kerajaan Utsmaniyyah untuk menggalang persatuan demi menghadapi menghadapi ancaman dari pihak luar yang ingin menghancurkan eksistensi kerajaan Utsmaniyyah. Ia mengusahakan terjalinnya persatuan antara pengikut Ahl sunnah wa al jamaah dengan pengikut Syiah demi menjaga wilayah Utsmaniyyah dari penjajahan bangsa kolonial Eropa.
Politik devide et empera yang diterapkan oleh bangsa kolonial Prancis, Inggris, Rusia dan Negara-negara Eropa lainnya untuk memecah belah persatuan umat. Ide Nasionalisme Arab yang ditanamkan kepada bangsa Mesir dan Negara-negara Afrika oleh Inggris dan Prancis demi mengahancurkan kekhilafahan Utsmaniyyah dari dalam, ia senatiasa mengikapinya dengan kecermatan dan kehati-hatian yang sangat mendalam. Semua itu ia lakukan bukan lantaran keterbatasan kekuasaan yang ia miliki, namun hal tersebut lebih dari demi menjaga kesatuan umat agar tidak terpecah belah. Sehingga bangsa Eropa yang sangat berkepentingan demi hancurnya kekhilafahan Utmaniyyah tidak bisa mengambil mamfaat dari lemahnya persatuan umat.
Sultan Abdul Hamid II mengutamakan membangun kesatuan umat, dengan lebih berkosentrasi terhadap perdamaian dengan para pejabat yang berniat melengserkannya. Ia memberi para pejabat tersebut fasilitas dan jabatan, berharap mereka dapat menyingkirkan ide-ide busuk mereka yang akan berdampak terhadap perpecahan umat dan disintegrasi negeri-negeri Islam yang jauh dari pusat.
Walau ia berhadapan dengan permasalahan dalam negeri yang sangat kompleks, Abdul Hamid II juga tidak pernah mengabaikan setiap gangguan yang mengancam kaum muslimin yang datang dari luar. Demi mempertahankan wilayah teritorial Utsmaniyyah dari gangguan Rusia, Sultan Abdul Hamid II bahkan rela membiayai perang dengan Rusia dengan hata pribadinya.
Salah satu konsistensi yang diperlihatkan oleh Sultan Abdul Hamid II dalam memelihara territorial wilayah Utsmaniyyah ialah usahanya dalam mempertahankan al Quds (Palestina) dari pencamplokan bangsa Yahudi. Usaha lobby yang gencar dilakukan para petinggi Zionis -Theodore Hertzl- agar sultan mau memberikan wilayah Palestina bagi kaum Yahudi, ia tolak mentah-mentah. Bahkan tawaran harta pribadi bagi sultan serta janji pelunasan hutang Negara Utsmaniyyah yang mencapai 300 juta lira, tidak mampu meluluhkan keteguhannya dalam mempertahankan tanah Palestina.
“Aku tidak dapat menjual bagian dari negeri tersebut (Palestina) walau satu telapak kaki pun, karena negeri itu bukan milikku, tetapi milik rakyatku. Rakyatku telah sampai kedaerah itu dengan mengucurkan darah mereka, dan mereka pun akan kembali menumpahkan darah mereka esok hari. Di masa mendatang, kami tak akan membiarkan seorang pun merampasnya dari kami”. Demikian tulis Hertzl mengutip jawaban dari Abdul Hamid II, ketika ia berusaha meminta Alquds kepada sultan. (Harb, Muhammad. 2004. Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II (terjemahan Abdul Halim). Bogor: Pustaka Thariqul Izzah).
Dicari: Pemimpin berjiwa Abdul Hamid II
Keshalehan politik yang dicontohkan Abdul Hamid II telah menjadi sejarah yang digoreskan dengan tinta emas. Konsistensinya dalam menjaga persatuan umat dan keutuhan wilayah kaum muslimin telah menjadi kenangan terindah kaum muslimin dimana pun mereka berdiri.
Dalam konteks Indonesia, pesta pemilihan presiden yang akan segera berlangsung tentunya sangat diharapkan akan melahirkan sosok pemimpin yang berjiwa seperti sultan Abdul Hamid II. Pemimpin yang lebih mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadinya. Pribadi yang diharapkan mampu mengayomi rakyat, memberikan mereka rasa aman dan kesejahteraan.
Cukup sudah ironi politik yang dipertontonkan dengan vulgar meracuni pikiran rakyat. Walau sistem politik yang ada, senantiasa memandu para politisi untuk bersikap inkonsisten, namun bagi mereka yang mempunyai kepribadian yang kuat dan jujur. Segala macam godaan dan cobaan yang menerpa tidak akan membengkokkan sikap dan karakter mereka yang lurus.
Kelak, ketika jasad mereka telah hancur berkalang tanah, jasa dan pengorbanan mereka akan kekal sepanjang masa, menembus batas dimensi abadi, melewati sekat-sekat zaman, serta akan menjadi sumber inspirasi bagi berjuta generasi setelahnya. Wallahua’lam.



Read More......

Prita Mulyasari dan Kebebasan Pers.

Rabu, 03 Juni 2009


Wajah perempuan itu terlihat sendu. Matanya sembab. Baju hitam yang dipadu dengan jilbab warna senada kian mempertegas kemurungan hatinya. Wajahnya tak mampu menahan kesedihan dan kerinduan kepada anak yang masih disusuinya, suami, dan keluarga. Prita Mulyasari, 32 tahun, sudah 20 hari mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tagerang akibat gugatan dari pihak Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutra, Tangerang, tempat dulu ia dirawat.

Prita menjadi tahanan yang dititipkan oleh Kejaksaan Negeri tangerang karena disangka mencemarkan nama baik rumah sakit melalui Internet. Ia dijerat dengan Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan hukuman maksimal enam tahun penjara atau denda maksimal Rp 1 miliar Ia menjadi orang kedua yang dijerat undang-undang itu setelah Narliswandi Piliang, seorang jumalis media on line.

Akibat pengurungan itu, berat badannya langsung melorot. "Selama di sini, berat badanku turun 5 kilogram," ujar karyawati di bagian call center di sebuah bank swasta ini. Selama di tahanan, Prita banyak mengisi waktu dengan mempelajari keterampilan. saat di kunjungi di ruang jenguk Lapas Wanita Tangerang yang sempit dan panas.

Perbuatan Prita Mulyasari (32) yang mengirimkan email berisi keluhan tentang pelayanan RS Omni Internasional kepada teman-teman pribadinya belum bisa dikategorikan pelanggaran dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Hal itu karena email tersebut sifatnya keluhan pribadi.

"Jika hanya bersifat keluhan pribadi ya saya rasa tidak (termasuk pelanggaran) ya. Sama seperti kita kirim SMS ke teman. Kecuali jika ada motif tertentu maka di sinilah harus dibuktikan motifnya apa," ujar mantan anggota Panitia Khusus (Pansus) UU ITE Ganjar Pranowo saat berbincang dengan detikcom, Selasa (2/6/2009).
Ganjar menambahkan, perbuatan Prita yang mengirimkan email tersebut mungkin saja tanpa motif. "Kecuali kalau teman-temannya menyebarluaskan terus ditambah-tambahi, semua pihak bisa dipertanggungjawabk an," ungkapnya.

Menurut Ganjar, perbuatan pencemaran nama baik sebagaimana diatur dalam Pasal 27 Ayat (3) UU ITE mempunyai syarat pembuktian yang cukup sulit. Seseorang yang melanggar harus dibuktikan memiliki motif sengaja mencemarkan nama baik.

Oleh karenanya penyidik jangan gegabah menggunakan pasal tersebut jika belum mempunyai bukti yang cukup. "Karena ini di dunia maya jadi berbeda dengan dunia riil," tambahnya.

Sebelumnya, Prita ditahan karena dituduh melakukan pencemaran nama baik terhadap RS Omni lewat internet. Kasus yang menimpa Prita ini berawal dari email yang dia kirim kepada teman-temannya seputar keluhannya terhadap RS Omni. Email tersebut kemudian menyebar ke publik lewat milis-milis.

Dalam emailnya, Prita merasa dibohongi oleh diagnosa dokter ketika dirawat di RS tersebut pada Agustus 2008. Dokter semula memvonis Prita menderita demam berdarah, namun kemudian menyatakan dia terkena virus udara. Tak hanya itu, dokter memberikan berbagai macam suntikan dengan dosis tinggi, sehingga Prita mengalami sesak nafas.

Saat hendak pindah ke RS lainnya, Prita mengajukan komplain karena kesulitan mendapatkan hasil laboratorium medis. Namun, keluhannya kepada RS Omni itu tidak pernah ditanggapi, sehingga dia mengungkapkan kronologi peristiwa yang menimpanya kepada teman-temannya melalui email dan berharap agar hanya dia saja yang mengalami hal serupa.

Saat ini Prita telah ditahan di Lapas Wanita Tangerang, Banten. Selain dijerat dengan pasal pencemaran nama baik, Prita juga dikenai Pasal 27 ayat (3) UU ITE No 11/2008


Read More......

Kontroversi “Knowing” dalam Perspektif Teologi Islam

Sabtu, 16 Mei 2009


Berawal dari sebuah peristiwa yang terjadi pada tahun 1959 di sebuah Sekolah Dasar di Amerika Serikat. Pada sebuah jam pelajaran, seorang guru menyuruh para muridnya untuk menghadirkan imajinasi mereka dalam sebuah bentuk lukisan yang bertemakan tentang ramalan mereka tentang apa yang akan terjadi dalam masa lima puluh tahun yang akan datang.
Semua murid yang berada dalam kelas tentu saja menyambut tugas tersebut dengan suka cita. Tapi, lain halnya dengan seorang murid bernama Lucinda. Lucinda yang di mata para gurunya dipahami sebagai murid yang selalu terlihat sedih tidak mengambar apa pun di lembaran sebesar kanvas yang disediakan oleh sang guru. Ia mengukir lembaran tersebut dengan deretan angka yang tidak bisa dipahami oleh sang guru dan juga teman-temannya.
Ketika waktu yang tersedia telah habis. Sambil mengamati hasil karya kreatifitas murid-muridnya, sang guru meminta mereka untuk mengumpulkan pekerjaan tersebutl. Ketika ia sampai di depan meja Lucinda yang terlihat masih sibuk dengan segala aktivitasnya, sang guru sangatlah kaget dengan tingkah si murid. Sambil memprotes pekerjaan Lucinda, sang guru langsung merebut pekerjaan yang belum sempurna tersebut.


Setelah semua murid mengumpulkan semua tugas mereka, tugas tersebut di simpan dalam sebuah tabung silinder berbahan baja untuk kemudian di tanam di halaman sekolah. Dan akan dibuka di kemudian hari yaitu selama lima puluh tahun yang akan datang. Pada acara penanaman penanaman tabung silinder, Lucinda tiba-tiba menghilang dari acara tersebut. Suasana menjadi panik, setelah beberapa lama mencari, akhirnya Lucinda ditemukan dalam keadaan kukunya bersimbah darah. Rupanya Lucinda menyempurnakan pekerjaannya dengan cara mencakar menggoreskan angka-angka dengan kuku tangannya disebuah daun pintu sebuah gudang.
Lima Puluh tahun kemudian, Professor Jhon, seorang pengajar Aerofisika di MIT dan Putranya Caleb secara tidak sengaja mampu menerjemahkan angka-angka tersebut. Pada waktu itu, Caleb dan teman-temannya yang notabene adalah murid di tempat Lucinda dulu pernah belajar diberi kehormatan untuk membuka masing-masing satu lembar kertas imajinasi tersebut. Dan secara kebetulan Caleb mendapatkan kertas kepunyaan Lucinda. Ketika melihat deretan angka tersebut, tentu saja Caleb yang juga seorang anak kecil yang terlihat mempunyai bakat alami dalam bidang Aerofisika tertarik dengannya.
Caleb kemudian membawa kertas tersebut pulang ke rumahnya. Ketika Jhon melihat anaknya membawa inventaris sekolah pulang, Jhon meminta Caleb untuk mengambilakan ke pihak sekolah.
Namun takkala Caleb sedang tidur, Jhon yang berprofesi sebagai seorang Aerofisikawan tergelitik untuk memecahkan kode-kode angka tersebut. Setelah ia melihat deretan angka tersebut sebagai sebuah kode yang mempunyai arti untuk dipecahkan.
Setelah berusaha dengan segenap tenaga, akhirnya Jhon menemukan sebuah fakta ajaib tentang angka tersebut. Deretan angka tersebut ternyata berisikan tentang catatan tragedi kemanusiaan di bumi yang banyak merengut banyak jiwa manusia dalam kurun lima dekade terakhir.
Dan sebuah tantangan datang dari angka-angka tersebut, yaitu keberadaan tiga tragedi tersisa yang salah satunya adalah sebuah tragedi tentang akhir dari sejarah manusia (hari kiamat). Dan teka-teki tentang akhir dunia ini diterjemahkan oleh sang sutradara film berjudul ‘Knowing’ yang dibintangi oleh Nicholas Cage ini.
Namun, dibalik imajinasi menawan sang sutradara tentu saja masih ada terdapat cacat yang akan menandai akan ketidak sempurnaan makhluk bernama manusia. Dan apabila kita lebih cermat dalam menganalisa film ini tentu saja akan menghadirkan sebuah fakta yang akan sangat mengagetkan kita semua, apalagi jika sebagai seorang muslim.
Oleh sebab itu maka kita akan menggunakan pisau analisa teologi dalam membedahnya. Dan tentu saja pisau analisa teologi yang saya gunakan adalah analisa seorang muslim.
Sebagai sebuah film yang sukses, tentu saja film ini ditonton oleh berbagai kalangan, dan tidak ketinggalan kaum muslimin. Walupun film ini bertemakan tentang hari kiamat yang juga terdapat dalam keimanan kaum muslimin. Namun sayangnya film ini sangatlah bertentangan dengan nilai keimanan kaum muslimin.
Dan pada saat ini saya hanya akan mengupas tentang apakah film ini dapat menambah keimanan kita sebagai seorang muslim kepada Allah, atau malah sebaliknya. Disebabkan saya juga termasuk orang yang sudah pernah menyaksikan film ini, saya cendrung untuk mengatakan bahwasanya film ini berusaha menghancurkan keimanan kaum muslimin terhadap alam metafisika. Dan menggantikannya dengan keimanan kepada Sains dengan menjadikan para Saintis sebagai Tuhannya.
Hal ini terlihat jelas dari cara mereka dalam mengasosiasikan hari kiamat sebagai sebuah efek dari tingkah laku manusia yang semakin tidak bersahabat dengan alam. Dan hal ini dapat dibaca oleh para saintis sebagai awal dari akhir dunia. Walaupun melalui sebuah ramalan yang tidak mempunyai sebuah dasar rasional ilmiah.
Ketika masyarakat dunia tersadar akan semua ini, tentunya mereka akan berpaling pada pada menuhankan Sains dengan segala hal yang terdapat di dalamnya. Dan apabila hal ini dapat mempengaruhi jiwa seorang muslim, tentu saja akan mengakibatkan sebuah erosi keimanan yang sedikit demi sedikit akan mengikis keimanan kita pada hari kiamat dan yang juga akan menjatuhkan kita pada menuhankan sains dengan Tuhan berjas putih yang terus menerus berupaya menrong-rong kemutlakan kekuasaan Tuhan yang selama ini diyakini manusia.
Maka oleh sebab itu kaum muslimin diharapkan untuk dengan segala macam daya kritis yang kita miliki untuk dapat membaca segala fenomena yang akan menjatuhkan kita pada hal-hal yang ditentang oleh agama kita. Karena perangkap iblis yang ada saat ini sungguh akan melenakan kita. Perangkap yang sangat sulit untuk mendeteksinya, sehingga kita hanya akan tersadar ketika kita sudah berada dalam siksaan Tuhan dan akan menyesali hal tersebut.
Ciputat, 09.



Read More......

Hantu Flu Babi Selimuti Bumi

Rabu, 29 April 2009

Dalam dua pekan terakhir masyarakat dunia disibukkan dengan kemunculan momok Swine Influenza (Flu Babi) yang telah menewaskan lebih dari seratus orang. Flu babi merupakan sejenis virus varian H1N1 yang berasal dari babi. Virus ini pertama kali ditemukan di Negara Meksiko dan selanjutnya menyebar cepat ke Amerika Serikat, Kanada, Selandia Baru, Spanyol, Israel. Di Negara asalnya virus ini telah menewaskan lebih dari seratus jiwa, dan lebih seribu orang telah diyakini terinfeksi olehnya.
Penularan penyakit influenza babi di Amerika Serikat dan Mexico ini telah menarik perhatian komunitas internasional, termasuk pemerintah Indonesia yang langsung meningkatkan surveilans penyakit dan memperketat pengawasan lalu lintas orang di pelabuhan laut dan udara untuk mengantisipasi penyebarannya.
Influenza babi atau “flu babi” awalnya merupakan penyakit respirasi akut sangat menular pada babi yang disebabkan oleh salah satu virus influenza babi, termasuk di antaranya virus influenza tipe A subtipe H1N1, H1N2, H3N1, H3N2.

Angka kesakitan akibat infeksi virus yang menyebar di antara babi melalui udara baik dengan kontak langsung maupun tidak langsung dengan babi pembawa virus itu cenderung tinggi pada populasi babi namun tingkat kematian akibat penyakit ini rendah, antara satu persen hingga empat persen.
Kejadian flu babi pada populasi binatang tersebut umumnya sepanjang tahun dengan peningkatan kejadian pada musim gugur dan dingin.
Selain bisa terinfeksi virus influenza babi tipe A subtipe H1N1, babi juga bisa terinfeksi virus avian influenza H5N1 (flu burung) dan virus influenza musiman atau virus influenza yang biasa menyerang manusia. Bahkan kadang babi juga bisa terinfeksi oleh lebih dari satu tipe virus dalam satu waktu.
Kondisi yang demikian memungkinkan virus-virus tersebut saling bercampur dan memunculkan strain virus baru dari beberapa sumber (reassortant virus). Hal inilah yang antara lain membuat virus flu babi yang normalnya spesifik dan hanya menginfeksi babi kadang bisa menembus batas spesies dan menyebabkan kesakitan pada manusia.
Kejadian luar biasa penyakit infeksi influenza babi pada manusia beberapa kali pernah dilaporkan terjadi. Manusia biasanya tertular flu babi dari babi dan, meski sangat sedikit, dari orang yang terinfeksi karena berhubungan dengan babi atau lingkungan peternakan babi.
Kasus penularan flu babi dari manusia ke manusia sendiri terjadi dalam beberapa kasus namun masih terbatas pada kontak dekat dan sekelompok orang saja.
Gejala flu babi pada manusia umumnya serupa dengan gejala infeksi virus influenza yang biasa menyerang manusia yakni demam lebih dari 37,8 derajad celcius, sakit tenggorokan batuk, pilek, sakit kepala dan nyeri.
Presentasi klinis tipikal infeksi flu babi pada manusia yang serupa dengan inluenza biasa dan infeksi saluran pernafasan atas yang lain itu membuat sebagian besar kasusnya tidak terdeteksi dari surveilans influenza sehingga kejadian penyakit ini pada manusia secara global belum diketahui.
Tindakan pencegahan antara lain bisa dilakukan dengan menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit, menutup hidung dan mulut saat batuk atau bersin, mencuci tangan dengan air dan sabun, sebisa mungkin menghindari kontak dengan orang lain saat flu serta mencari pertolongan medis jika sakitnya parah supaya mendapatkan pengobatan.

Risiko Pandemi

Semua orang, utamanya mereka yang tidak secara reguler melakukan kontak dengan babi, tidak punya kekebalan terhadap virus influenza babi yang bisa mencegah infeksi virus sehingga jika virus babi berubah menjadi virus yang efisien menular dari manusia ke manusia maka berpotensi menimbulkan pandemi influenza.
Namun menurut WHO dampaknya masih sulit di prediksi, tergantung pada keganasan virus, kekebalan tubuh manusia, perlindungan silang oleh antibodi yang dibutuhkan tubuh dari infeksi influenza musiman dan faktor inang.
Sementara vaksin yang bisa melindungi manusia dari infeksi virus flu babi hingga kini belum ada.
Vaksin influenza biasa yang ada saat ini pun belum terbukti efektifitasnya dalam memberikan perlindungan dari infeksi terhadap influenza babi.
WHO bersama semua mitra dari berbagai institusi masih melakukan penelitian berlanjut untuk mengetahui efektifitas penggunaan vaksin tersebut dalam pencegahan flu babi.
Penanganan kasus influenza bisa dilakukan dengan pemberian obat antivirus untuk penyakit influenza biasa yang terdiri atas dua kelas yakni adamantane (amantadine dan remantadine), dan inhibitor neuraminidase influenza (oseltamivir dan zanamivir).
Namun WHO menyatakan belum memiliki cukup informasi untuk membuat rekomendasi tentang penggunaan obat antivirus dalam pencegahan dan penanganan infeksi flu babi.
Menurut organisasi tersebut, klinisi harus membuat keputusan berdasarkan penilaian klinis dan epidemiologis dengan mempertimbangkan keuntungan dan bahayanya untuk menggunakan obat antivirus sebagai prophylaxis atau untuk pengobatan pasien.
Dalam kejadian flu babi di Amerika Serikat dan Mexico, pemerintah setempat merekomendasikan penggunaan oseltamivir dan zanamivir untuk pencegahan dan pengobatan namun demikian kasus flu babi yang dilaporkan terjadi baru-baru ini umumnya bisa disembuhkan tanpa membutuhkan pertolongan medis khusus dan pemberian obat antivirus tertentu.

Virus lama, subtipe baru.

Flu babi sebenarnya penyakit pernapasan yang umum ditemukan pada babi, tapi strain virus yang ada saat ini mewabah dan menginfeksi manusia tampaknya subtipe yang tak pernah terlihat sebelumnya, baik pada babi maupun pada manusia.
Umumya flu babi tidak menular ke manusia. Menurut WHO, ketika terserang flu, babi akan sakit, 1-4 persen diantaranya mati. Di masa lalu, terkadang ada manusia yang tertular flu babi jika mereka melakukan kontak langsung dengan babi.
Strain flu babi baru ini adalah subtipe yang mengandung material genetik dari babi, burung dan manusia, kata WHO. Richard Besser, direktur pelaksana centers for Disease Control and Prevention, Amerika Serikat menyatakan, berbeda dengan kasus flu babi umunya, flu babi baru ini dapat menyebar antar manusia. Pada salah satu kasus di Amerika, seorang penderita flu babi tertular penyakit berbahaya itu dari pasanganya yang baru bepergian ke Meksiko.
Para ilmuwan menduga babi adalah "mangkuk pencampur" untuk beberapa virus flu. Burung tak dapat menularkan flu burung kepada manusia, namun, secara unik, babi rentan terhadap serangan flu yang menginfeksi burung.
Para ilmuwan telah lama khawatir, strain flu burung yang menginfeksi babi akan bermutasi dalam tubuh mamalia itu dan berkembang menjadi bentuk yang dapat menyerang manusia dan mamalia lain. Kemungkinan itulah yang terjadi sekarang.
Babi juga bisa terinfeksi lebih dari satu virus influenza pada saat yang sama, yang memungkinkan virus-virus itu saling berbagi gen, yang disebut "genetic reassortment", menciptakan lebih banyak virus baru, dan berpotensi lebih berbahaya dari virus sebelumnya.
Dari berbagai sumber*)



Read More......

Ruang Yang Telah Hilang

Rabu, 15 April 2009

Ada seorang pangeran kecil dengan makhkota ajaibnya dan penyihir jahat menculiknya, mengurungnya di menara, membuatnya jadi bisu. Di menara itu ada jendela berterali besi dan pangeran kecil itu membenturkan kepalanya ke terali, berharap seseorang akan menengar suaranya dan menemukannya. Mahkota itu membuat suara terindah yang pernah didengar orang. Suaranya menggema sampai jauh. Begitu indahnya suara tersebut sehingga orang ingin menangkap udara. Mereka tak menemukan sang pangeran, tak pernah menemukan kamarnya, tapi suara itu memenuhi hati setiap orang dengan keindahan. (Alfathri Alin, editor jalasutra).
Setelah membaca paragraf pertama dari catatan editor buku berjudul 'Hipersemiotika, tafsir cultural studies atas matinya makna' karangan Yasraf Amir Piliang, sejenak saya terbuai dengan keindahan kata yang digoreskan pena sang editor. Terbang dalam keindahan susunan kalimat yang membutakan mata hati untuk melihat pesan yang akan disampaikannya. Saya terpesona layaknya para penduduk kerajaan yang tidak lagi mencari makna yang ada dari alunan suara benturan kepala pangeran ketika berbenturan dengan terali besi.

Dan layaknya seperti sebuah mimpi, ketika terbangun saya sadar akan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Membawa saya untuk melihat dunia dalam perspektif yang berbeda. Mencoba menilai kebudayaan masyarakat dalam dari sudut pandang yang sedikit orang yang menggunakannya. Menunutut saya menjadi penduduk kerajaan yang akan memahami perasaan sedih sang pangeran dan membebaskanya dari penjara penyihir jahat.
Oleh sebab itu, saya menghadirkan ceritera tersebut dalam versi penduduk dihabitat ruang modern saat ini. Bukan tentang penderitaan seorang pangeran kecil yang ditawan oleh penyihir jahat, tetapi tentang penderitaan yang saat ini semua anak bergenus manusia tersiksa dan terpenjara olehnya.
Saat mata hati dibutakan oleh kesenangan semu yang ditawarkan oleh berbagai macam rekayasa teknologi informasi. Kesenangan yang hanya dapat dinikmati dalam sejenak saja, namun pada hakikatnya adalah sebuah kehancuran yang besar telah berada dipelupuk mata kita.
Perangkat teknologi audiovisual seakan telah menjadi sebuah kebutuhan primer manusia modern pada zaman ini. Kecanggihan yang ditawarkan olehnya tidak lagi sebagai sebuah hiburan. Namun ia telah bermutasi menjadi makhluk yang sangat berpengaruh dalam proses pembentukan pola pikir dan tingkah laku manusia.
Pada dasarnya, segala macam pencapain manusia dalam bidang teknologi bukanlah sebuah kekeliruan yang mengakibatkan sebuah kefatalan. Namun, tendensi-tendensi busuk yang lahir dari rahim tangan-tangan kotor manusia telah menjadikan semua itu layaknya sebuah virus yang akan mengacaukan segala macam bentuk keharmonian yang ada dalam peradaban manusia.
Setiap detik otak manusia dibombardir oleh milyaran informasi yang bersiliweran. Sedangkan dalam teori fisika quantum dijelaskan, sebuah otak manusia mampu memproduksi rata-rata 14 ribu pemikiran perhari, 5 juta pertahun, 350 juta selama hidupnya. Dan untuk tetap dalam keadaan waras maka mayoritas pemikiran tersebut hanya berupa pengulangan.
Oleh karenanya, sistem otak manusia hampir setiap saat berada dipercabangan menuju bifurkasi (percabangan yang berpengaruh positif/negatif). Satu turbulen kecil berasal dari kamulasi keresahan akan membawa manusia pada tingkatan kritis yang bisa menjadikannya apa saja.
Teknologi audiovisual sebagian besar menyajikan sebuah produk budaya yang sangat primitif. Menampilkan segala macam adegan kekerasan dan iklan yang membangun mentalitas pecundang. Membunuh kreatifitas tangan masyarakat luas. Hingga seseorang ketika membeli sebuah barang pun tidak lagi berdasarkan kepada nilai utalitas produk tersebut. Tapi, telah menjadikan mereka sebagai penganut fetisme.
Dan untuk melegitimasi hal itu, maka digunakanlah tokoh public figure sebagai ikon mereka. Public figure yang juga hasil dari rekayasa teknologi informasi. Manusia-manusia kerdil yang seakan tiada mempunyai nurani. Dengan iming-iming kenikmatan dunia mereka rela menjadi virus perusak peradaban manusia.
Beginilah corak informasi yang menyerang otak kita. Bukanlah sesuatu yang bisa diklasifikasikan antara negatif dan positif. Sekali lagi manusia telah merubah identitas hitam putih salah benar menjadi wilayah abu-abu yang sulit untuk diraba. Sehingga tiada lagi jarak pemisah antara salah dan benar, tiada lagi realitas dan kebohongan, semuanya telah bercampur menjadi satu adonan budaya yang tidak bisa dipahami tapi hanya bisa dinikmati. Inilah ruang yang menawarkan sebuah pandangan yang semuanya serba relatif.
Jika kondisi ini tidak kita usahakan untuk merubahnya, maka saksikanlah bencana degradasi moral yang akan pelan tapi pasti akan mengahancurkan peradaban manusia. Satu pertanyaan, apakah kita akan bisa bertahan hidup didalamnya?.



Read More......

Menggugurkan Prinsip “Bebas-Nilai” dalam Kajian Ilmu Sosiologi

Rabu, 08 April 2009

Hampir mayoritas sosiolog akan berpendapat bahwa ilmu sosiologi menggunakan prinsip “value free” (bebas nilai) demi menjaga obyektivitas dan keilmiahan sebuah ilmu atau teori. Unsur nilai yang memasukkan asumsi subyektivitas ke dalam kajian sosiologi akan menyebabkan ketidakobyektifan sebuah gagasan. Kriteria yang menentukan apakah sebuah kajian itu ilmiah atau tidak ditentukan oleh bagaimana kemampuan seorang peneliti dalam memaparkan informasi secara obyektif. Tuntutan dalam prinsip bebas nilai adalah kegiatan ilmiah yang didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri.[1] Artinya, tidak ada campur tangan eksteral di luar struktur obyektif sebuah pengetahuan. Obyektivitas hanya bisa diraih dengan mengandaikan ilmu pengetahuan yang bebas nilai (value-neutral).
Untuk memahami perdebatan dalam persoalan prinsip “bebas-nilai” dalam ilmu-ilmu umumnya, kita sebaiknya mengkaji pembedaan ilmu berdasarkan ilmu yang teoritis dan praktis. Cita-cita ilmu teoritis adalah memberikan penjelasan tentang suatu realitas (kenyataan) tanpa sikap berpihak, dan tanpa dipengaruhi oleh hasrat dan keinginan tertentu. Jadi, pengetahuan yang ingin didapat adalah pengetahuan yang berasal realitas obyektif. Pengetahuan teoritis melukiskan kenyataan yang ada, dan sebatas pada deskripsi atas kenyataan itu, bukan justru melukiskan kenyatan yang dinginkan atau dikehendaki. Sedangkan pengetahuan yang praktis sudah masuk pada sikap bagaimana melakukan kerja teoritis itu yang kemudian menghasilkan pengetahuan yang kurang obyektif, yang berpihak pada kepentingan dan keinginan tertentu, yang tidak lagi disinterested. Dalam pengetahuan yang kedua ini persoalan nilai menjadi sesuatu yang pasti akan terjadi. Menurut Ignas Kleden, dalam pengertian pengetahuan yang praktis ini terkandung dua makna, yaitu persoalan nilai dan kepentingan yang akan menimbulkan perdebatan dan pernyataan apakah pengetahuan itu bebas nilai dan tanpa adanya kepentingan.[2]

Kalau dalam makna pengetahuan yang bebas nilai, sosiologi itu sekedar menjadi ilmu yang mendeskripsikan kenyataan obyektif, dan berputar pada persoalan teoritis. Tidak ada campur tangan seorang peneliti dalam kajian dan pengamatannya. Di sinilah kemudian ada cap yang teralamatkan pada pengetahuan dengan makna demikian sebagai pengetahuan yang tidak perlu memecahkan masalah karena jika sudah seperti itu maka persoalan nilai dan kepentingan pasti akan masuk. Menurut Ilyas Ba-Yunus, jika kita teliti sumbangan-sumbangan para pelopor sosiologi modern yang kini dianggap klasik, ternyata terlihat bagaimana mereka melakukan penilaian-penilaian tentang fenomena-fenomena yang dikajinya walaupun dengan klaim tetap berprinsip netralitas nilai. Ia menunjuk Weber ketika menyebut kapitalisme yang terorganisasi secara birokratis itu ternyata dilengkapi dengan semacam kepentingan (self-importance), Durkheim yang menjelaskan bunuh diri dari sudut kejahatan juga berusaha untuk mencari pemecahannya, dan Agust Comte yang sangat dikenal sebagai pelopor positivisme dalam sosiologi mengklaim bahwa ilmu yang digagasnya itu dapat memecahkan masalah.[3] Jadi, tidak bisa semata-mata itu bebas nilai, pasti ada campur tangan nilai dan kepentingan ke mana arah manfaat dan tujuan sebuah ilmu. Atau ilmu itu tidak semata-mata teoritik, tapi juga terkandung kegunaan praktisnya. Dalam hal ini sosiologi profetik tidak hanya terpaku pada ilmu teoritik saja, tapi juga bersifat praktis.Berbicara soal kepentingan, Habermas menyebut ada tiga kepentingan kognitif yang bertengger di balik ilmu pengetahuan dalam tiga bidang keilmuan[4]: ilmu alam, ilmu-ilmu historis-hermenutis, dan ilmu-ilmu kritis. Dalam ilmu alam yang berikhtiar menemukan hukum alam, akhirnya ada upaya penguasaan teknis atas proses-proses yang dianggap obyektif. Ilmu historis-hermeneutis tidak disusun secara deduktif dengan acuan kontrol teknis, tapi yang dilakukannya adalah menafsirkan teks dengan kepentingan mencapai saling pengertian dan konsensus. Sedangkan pada ilmu-ilmu kritis yang dikandungnya adalah kepentingan kognitif emansipatoris yang dilakukan lewat jalan refleksi diri seorang ilmuan. Dengan demikian Habermas menapik asumsi banyak kalangan dengan mengatakan bahwa pengetahuan itu tidak mungkin berdiri tanpa kepentingan apapun, walaupun tetap diakuinya bahwa pengetahuan itu tidak boleh membiarkan subyektivitas mendominasi.
Lalu, Habermas membuat lima butir tesis dalam teorinya atas pengetahuan.[5] Pertama, pencapaian-pencapaian subyek transedental memiliki dasar dalam sejarah amalam spesies manusia. Kedua, pengetahuan berlaku sebagai alat pertahanan diri sekaligus melampaui pertahanan diri semata-mata. Ketiga, kepentingan-kepentingan kognitif manusia itu berada pada tiga medium organisasi sosial, yakni: kerja, bahasa, dan kekuasaan. Keempat, di dalam kekuatan refleksi diri, pengetahuan dan kepentingan menyatu. Dan yang kelima, kesatuan antara pengetahuan dan kepentingan dapat dibuktikan dalam suatu dialektika yang memiliki jejak-jejak sejarahnya dari dialog yang ditindas dan merekonstruksi apa yang telah ditindas. Dengan kelima tesis ini Habermas menghujamkan kritikannya terhadap positivisme dan sainstisme. Artinya, ia mengkritik kenaifan ilmu pengetahuan yang bernafsu mencari teori murni yang bebas dari opini-opini subyektif, tendensi-tendensi, penilaian moral, dan kepentingan lainnya.
Prinsip bebas nilai dalam ilmu pengetahuan itu menafikan adanya “historisisme” yang sangat menentukan bagaimana konstruksi atas pengetahuan itu. Jika dilihat menurut kacamata sosiologi pengetahuan maka sesunggunya ilmu itu tidak bebas nilai, tapi sangat terkait dengan konteks historis kemunculannya. Max Scheler dan Karl Mannheim, dari aliran sosiologi pengetahuan, menentang ide mengenai ilmu-ilmu sosial yang bebas nilai. Keduanya menyatakan bahwa pikiran, bahkan pikiran logis para ilmuan sekalipun, dibentuk secara historis dan itu, baik disadari atau tidak, sedang merefleksikan kebudayaan mereka sendiri dan perspektif sosial yang mereka adopsi. Seorang ilmuan memang harus mengatasi prasangka-prasangka mereka dengan memperbaiki kadar kualitas pembacaan mereka atas realitas, dengan berpangkal pada obyektivitas, tapi pada saat yang sama mereka harus mengklarifikasi asumsi-asumsi yang mendasar, memahami lokasi-lokasi sosial mereka sendiri dalam masyarakat, dan juga secara kritis mempertanyaan cita-cita sosial yang ada di masyarakat.[6] Jadi, konstruksi berpikir seorang ilmuan tidak bisa terlepas dari konteks historisnya, yang itu kemudian menuntut dirinya mampu memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Ideal pengetahuan obyektif Abad Pencerahan “membasmi” semua pra-pendapat subyektif untuk membentuk suatu pendekatan yang “netral” dan “obyektif”. Hal ini dimaksudkan agar terbebas dari bias-bias emosional, afektif, dan pribadi, dengan mengunggulkan akal dan metodologi yang logis sebagai jalan menuju pencerahan. Pengetahuan yang dihasilkan seperti ini adalah akibat historis yang terkondisikan oleh faktor-faktor sosio-kultural dengan bangkitnya pemikiran Abad Pencerahan. Berkebalikan dari nuansa abad itu, Gadamer menegaskan kembali pentingnya tradisi dan prasangka dalam memahami segala sesuatu. Seorang ilmuan tidak bisa terlepas dari batas-batas tradisinya. Tradisi sangat terkait dengan prasangka yang melatarbelakangi penafsiran kita atas realitas. Pentingnya tradisi dan prasangka ini menjadi upaya yang dilakukan oleh Gadamer dalam hermeneutikanya. Memahami (understanding) terkondisikan oleh masa lalu (“tradisi” kita) dan prasangka kita pada saat sekarang. Yang ingin ditekankan oleh Gadamer adalah pentingnya tradisi sebagai sebuah faktor yang mengkondisikan dan menjaid batas yang jelas dalam cara-cara di mana orang menafsirkan teks. Dalam proses menafsirkan itu, menurut Gadamer, pasti melibatkan proyeksi nilai, kepentingan, dan agenda seseorang ke dalam teks. Dalam perspektif Gadamerian, “kebenaran” itu tidak pernah final, definitif atau obyektif, karena terkondisikan historisnya.[7] Kata Gadamer, orang tidak dapat memahami sesuatu tanpa menghubungkannya dengan “ke-ada-an dirinya sendiri di dunia”. Konsep penafsiran obyektif dan bebas nilai menjadi problematis untuk diterapkan secara pasti.[8] Maka, ketika kita memahami teks maupun juga realitas, yang terjadi justru “relativisme”, bukan universalisme dan absolutisme kebenaran. Apa yang ingin diraih dalam netralitas nilai untuk mencapai obyektivitas dan keilmiahan sebuah ilmu menjadi absurd.
Ada sebuah tafsiran mengenai nilai yang dilihat menurut kaca mata sosiologi. Kita mungkin pernah mendengar pernyataan Max Weber, salah satu tokoh yang mengembangkan sosiologi, yang sampai pada kesimpulan bahwa sosiologi harus bersifat bebas-nilai. Memang, tafsiran Weber mengenai rasionalitas ada yang berorientasi pada nilai.[9] Tapi, nilai apa yang dimaksud di sini? Seorang pengikut Weberian, Peter L. Berger, menyatakan bahwa hampir tidak mungkin bagi seseorang manusia berada tanpa suatu nilai apapun. Ia mengakui bahwa seorang ahli sosiologi secara normal memang mempunyai banyak nilai, tapi dalam batas-batas kegiatannya sebagai seorang ahli sosiologi hanya ada satu nilai fundamental, yaitu integritas ilmiah.[10] Jadi, nilai yang dimaksud adalah integritas seorang sosiolog dalam mencapai pengetahuan yang obyektif. Seorang sosiolog dengan berbagai macam praduga dan subyektivitas yang mungkin muncul pada dirinya, maka dia harus mampu mencoba memahami dan mengendalikan kemencengan yang harus dihapuskan dalam karya-karyanya.
Apakah dengan pernyataan Weber yang mengambil kesimpulan bahwa sosiologi itu harus bebas nilai menafikan adanya historisitas sebuah kebenaran obyektif? Rasionalitas yang dibangun Weber ternyata secara konsisten bersifat historis, yaitu menempatkan diri di dalam makna suatu zaman di mana ilmu pengetahuan tidak mampu lagi menciptakan makna karena agama dan pengetahuan telah diceraikan.[11] Di tengah memudarnya pesona modernitas dengan nihilisme makna, Weber masih berkeyakinan bahwa Tuhan dan nilai-nilai pemandu bisa untuk dipilih. Tuhan tidak mati, dan justru pengetahuan tidak bisa lagi menciptakan nilai-nilai mengenai diri kita sendiri.[12] Maksud dari teori sosial Weber yang bersifat historis adalah karena pengetahuan yang dihasilkan dari modernitas --salah satu sisi historis peradaban pada Abda Pencerahan-- itu memiliki kekaburan makna maka kita kini sebaiknya menciptakan makna-makna baru dengan tidak menafikan peran nilai dan Tuhan (agama) sebagai pemandu.


[1] Joseph MMT Situmorang, “Ilmu Pengetahuan dan Nilai-nilai”, dalam Majalah Driyarkara, Tahun XXII, No.4, hal. 13.
[2] Ignas Kleden, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, (Jakarta: LP3ES, 1988), cet.II, hal.24-25.
[[3] Ilyas Ba-Ynus, op.cit, hal. 37.
[4] F. Budi Hardiman, Menuju Masyarakat Komunikatif: Ilmu, Masyarakat dan Politik menurut Jurgen Habermas, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hal. 8-10.
[5] Ibid, hal. 11-14.
[6] Gregory Baum, Agama dalam Bayang-bayang Relativisme, terj. A. Murtajib Chaeri dan Masyhuri Arow, (Yogyakarta: Tiara Wacana dan Sisiphus, 1999), hal. 23-24.
[7] Lihat Richard King, Agama, Orientalisme, dan Postkolonialisme, terj. Agung Prihantoro, (Yogyakarta: Qalam, 2001) hlm. 137-144.
[8] Hans Georg Gadamer, Truth and Method, (New York: Seabury Press, 1975), hal. 15.
[9] Rasionalitas merupakan konsep dasar yang digunakan Weber dalam klasifikasinya mengenai tipe-tipe tindakan sosial. Tindakan rasional (menurut Weber) menurut pertimbangan yang sadar dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan. Weber membagi rasionalitas tindakan ini ke dalam empat macam, yaitu: rasionalitas instrumental, rasionalitas yang berorientasi nilai, tindakan tradisional, dan tindakan afektif. Rasionalitas instrumental sangat menekankan tujuan tindakan dan alat yang dipergunakan dengan adanya pertimbangan dan pilihan yang sadar dalam melakukan tindakan sosial. Dibandingkan dengan rasionalitas instrumental, sifat rasionalitas yang berorientasi nilai yang penting adalah bahwa alat-alat hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan yangs sadar; tujuan-tujuannya sudah ada dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut atau nilai akhir baginya. Lihat Paul Johnson, op.cit., hal. 220-1.
[10] Peter L. Berger, Humanisme Sosiologi, terj. Daniel Dhakidae, (Jakarta: Inti Sarana Aksara, 1985), hal. 11.
[11] Peter Beilharz, Teori-teori Sosial, terj. Sigit Jatmiko, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hal. 370.
[12] Max Weber, From Max weber, peny. H.H. Gerth dan C.W. Mills, (London: Routledge, 1948), hal. 155.



Read More......

Ketika Kampus Islam diBajak Orientalis

Oleh: Adian Husaini

Lebih dari 30 tahun benih orientalisme mencengkram studi Islam dan semakin merambah ke berbagai bidang, termasuk studi Al-Qur’an.
Saat mengisi acara workshop di Pondok Pesantren Gontor, 19-20 Agustus 2006 lalu, saya mendapatkan hadiah sebuah Jurnal yang sangat bagus, bernama TSAQAFAH. Jurnal ini diterbitkan oleh Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Pondok Modern Darussalam Gontor Indonesia. Pada edisi Vol.2, Nomor 2, 2006/1427, diangkat berbagai artikel menarik tentang keislaman. Salah satu yang perlu kita jadikan catatan adalah sebuah artikel berjudul “Framework Kajian Filsafat Islam” tulisan Hamid Fahmy Zarkasyi, Pembantu Rektor III ISID.
Melalui riset yang cukup mendalam terhadap sejumlah kurikulum kajian filsafat Islam di Perguruan Tinggi Islam di Indonesia –baik yang negeri maupun swasta– Hamid Fahmy membuktikan bahwa kajian filsafat Islam di Indonesia tampak jelas terpengaruh oleh kajian para orientalis. Pengaruh itu tidak hanya pada cara atau metodologi pengkajian, tetapi lebih mendasar lagi, sampai pada framework (kerangka) dan cara pandangnya
terhadap filsafat Islam.
Cara pandang ini tentu bukan tanpa maksud. Secara sistematis, mereka akan menunjukkan bahwa filsafatIslam hanyalah kertas copi dari Yunani; tanpa Yunani, Islam tidak memiliki pemikiran rasional. Padahal, sekalipun konsepsi falsafah juga dikenal dalam pemikiran Islam, namun tetap disertai kritik dan seleksi yang ketat. Itulah yang dilakukan oleh Al-Ghazali dan Ibn Taymiyah.
Menurut Hamid Fahmy, berbeda dengan tradisi filsafat Yunani yang berdasarkan akal, tradisi filsafat Islam bersumberkan pada wahyu. Dengan demikian, filsafat Islam adalah filsafat yang lahir dari pemahaman, penjelasan, dan pengembangan konsep-konsep penting dalam al-Quran dan Sunnah.
Dalam sejarahnya, para ulama dan cendekiawam Muslim telah melakukan proses seleksi dan adapsi yang ketat terhadap pemikiran yang datang dari luar Islam.

Sejumlah ilmuwan seperti Ibn Sina, al-Kindi, dan al-Farabi, menerima filsafat Yunani dan berusaha memodifikasikannya agar sesuai dengan prinsip-prinsip penting dalam ajaran Islam. Al-Ghazali dan Fakhruddin al-Razi menerimanya sejauh masih sejalan dengan ajaran Islam dan menolak konsep-konsep yang bertentangan dengan Islam.
Ibn Taymiyah termasuk diantara penolak keras “filsafat”, tetapi ternyata juga menerima jenis filsafat tertentu, yang disebutnya al-falsafah al-shahihah (filsafat yang benar) dan al-falsafah al-haqiqiyah (filsafat yang sebenarnya).
Hamid Fahmy – yang telah menyelesaikan disertasi doktornya tentang ‘Teori Kausalitas al-Ghazali” di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur – mencatat, bahwa para ulama Islam menolak, menerima secara selektif atau menerima dan memodifikasi prinsip-prinsip filsafat Yunani, karena konsep-konsepnya yang tidak sejalan dengan konsep Islam.
Selain itu, mereka juga percaya akan adanya konsep Islam sendiri yang berbeda dengan konsep asing itu. Ini berarti, simpul Hamid Fahmy, para ulama memandang bahwa dalam Islam terdapat prinsip berfikir filosofisnya sendiri yang berbeda dari Yunani.
Jadi, sejak awal, umat Islam sudah memiliki tradisi berpikir sendiri yang berdasarkan wahyu, yang berbeda dengan tradisi berpikir Yunani. Sumber aspirasi yang asli dan riil dari para pemikir Muslim adalah Al-Quran dan Sunnah Rasul. Bahwa ada sebagian unsur asing yang kemudian diserap dalam khazanah pemikiran Islam, tetap diupayakan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Dalam masalah Tuhan, manusia, dan alam semesta, para pemikir Muslim memiliki konsep mereka sendiri yang justru tidak terdapat dalam tradisi filsafat Yunani.
Mengambil contoh Kurikulum dan Silabi Kuliah Filsafat Islam terbitan Departemen Agama, Hamid menunjukkan, bahwa yang dimaksudkan sebagai “pemikiran filsafat Islam yang awal” dalam kurikulum ini adalah dimulai sejak masuknya pengaruh filsafat peripatetik Yunani ke dalam Islam. Artinya, filsafat Islam dianggap wujud hanya setelah datangnya pengaruh filsafat Yunani. Ha ini mendukung anggapan bahwa dalam Islam tidak ada filsafat atau pemikiran filosofis. Model kajian seperti ini tidak akan memberi bekal kemampuan kepada mahasiswa untuk mengembangkan filsafat sains dalam Islam.
“Jika framework ini ditelusuri asal usulnya maka akan terungkap kesamaannya dengan framework yang dipegang secara meluas oleh para orientalis,” tulis Hamid Fahmy, yang juga Direktur Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS), ISID Gontor.
Hasil riset Hamid Fahmy Zarkasyi tentang metode studi filsafat Islam di Perguruan Tinggi Islam di Indonesia ini sangat penting untuk ditelaah dan direnungkan secara mendalam.
Jauh sebelumnya, 30 tahun lalu, Prof. HM Rasjidi telah menunjukkan kuatnya pengaruh metode orientalis terhadap buku wajib dalam studi Islam di Indonesia, yakni buku “Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya”, karya Prof. Harun Nasution. Rasjidi kemudian memberikan kritik-kritik yang tajam terhadap buku tersebut, bahwa buku itu merusak dan membahayakan aqidah Islam.
Tetapi, kritik-kritiknya tidak pernah didengar. Buku ini tetap dijadikan sebagai rujukan dalam studi Islam di Perguruan Tinggi, tanpa didampingi oleh buku Prof. Rasjidi: Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”.
Seperti pernah kita bahas, buku Harun Nasution ini memuat begitu banyak kesalahan fatal dan mendasar tentang Islam. Dalam aspek filsafat, Harun Nasution juga menulis: “Pemikiran filosofis masuk ke dalam Islam melalui falsafat Yunani yang dijumpai ahli-ahli fikir Islam di Suria, Mesopotamia, Persia, dan Mesir…Filosof kenamaan yang pertama adalah Abu Yusuf Ya’qub Ibn Ishaq al-Kindi.”
Dalam pemaparannya, Harun mengungkap berbagai perdebatan seputar isu-isu dalam kajian filsafat, tetapi tidak melakukan ‘tarjih’ terhadap pendapat yang benar. Bahkan ketika membahas pendapat seorang filosof yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam, Harun tidak memberikan kritik terhadapnya. Seperti ketika menjelaskan tentang filosof Abu Bakr Muhammad Ibn Zakaria al-Razi (864-925), Harun bahkan menulis, “Tetapi sungguhpun ia menentang agama-agama, al-Razi bukanlah seorang ateis. Ia tetap percaya kepada Tuhan sebagai pengatur alam ini.”
Padahal, ditulis oleh Harun: “Al-Razi adalah seorang rasionalis yang hanya percaya pada akal dan tidakpercaya pada wahyu. Menurut keyakinannya akal manusia cukup kuat untuk mengetahui adanya Tuhan, apa yang baik dan apa yang buruk, dan untuk mengatur hidup manusia di dunia ini. Oleh karena itu Nabi dan Rasul tak perlu, bahkan ajaran-ajaran yang mereka bawa menimbulkan kekacauan dalam masyarakat manusia. Semua agama dia kritik. Al-Quran baik dalam bahasa maupun isinya bukanlah mu’jizat.”
Sebagai buku panduan untuk mahasiswa Muslim, harusnya Prof. Harun menjelaskan, bahwa pendapat Abu Bakr Muhammad Ibn Zakaria al-Razi (bukan Fakhruddin al-Razi) adalah keliru dan bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.
Harusnya, Prof. Harun tidak bersikap netral dalam hal-hal yang jelas-jelas salah. Bahkan, dalam uraiannya, Harun lebih cenderung mengunggulkan pendapat Ibnu Ruyd, ketimbang al-Ghazali. Dalam kritiknya, Rasjidi menyesalkan kecenderungan Harun untuk lebih menonjolkan pendapat Ibn Rusyd yang memberikan pembelaan kepada para filosof peripatetik dari kritikan al-Ghazali.
Kajian Harun tentang aspek filsafat dalam Islam, menurut Prof. Rasjidi, merupakan aspek yang sangat negatif, khususnya bagi mahasiswa IAIN tingkat pertama.
Dalam kritiknya, Rasjidi mengupas secara tajam kekeliruan pemikiran Ibnu Rusyd, al-Farabi, dan Ibnu Sina.
Filsafat Islam, kata Prof. Rasjidi, adalah suatu usaha untuk mempertahankan aqidah Islam dengan mengambil bahan dari filsafat Yunani yang tidak bertentangan dengan Islam. Teori al-Farabi dan Ibnu Sina tentang emanasi (pancaran) bertentangan dengan Islam, yang menegaskan, bahwa Allah menciptakan alam dengan kemauan-Nya, bukan melalui pancaran. Meskipun mengakui kebaikan niat baik Ibnu Rusyd dalam membela filosof – yakni untuk menunjukkan bahwa Islam tidak bertentangan dengan akal – tetapi Rasjidi menilai teori Ibnu Rusjd tentang kekekalan alam sudah usang untuk abad ke-20. “Kelihatan sekali bahwa Dr. Harun Nasution tidak mengikuti perkembangan ilmu cosmology astrophysic, sehingga ia mempertahankan pendapat Ibnu Rusyd yang sudah usang itu,” tulis Prof. Rasjidi.
Itulah studi kritis Prof. Rasjidi terhadap aspek filsafat dalam buku “Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya” karya Prof. Harun Nasution. Rasjidi menulis kritiknya ini pada tahun 1975. Bisa dikatakan, kajian Hamid Fahmy Zarkasyi lebih maju selangkah lagi dari apa yang telah dilakukan oleh Prof. Rasjidi, karena Hamid Fahmy sudah menyentuh aspek “framework” dan cara pandang. Bahkan, Hamid menawarkan perspektif baru dalam studi filsafat Islam yang belum ditawarkan oleh Prof. Rasjidi sebelumnya.
Kajian-kajian ilmiah dan serius tentang berbagai bidang keilmuan Islam (Ulumuddin) saat ini merupakan proyek yang sangat mendesak bagi umat Islam. Apalagi, 30 tahun setelah benih orientalisme ditanamkan oleh Prof. Harun Nasution, cengkeraman orientalis dalam studi Islam sudah semakin merambah ke berbagai bidang studi-studi lain, baik dalam studi agama-agama maupun dalam studi Al-Quran. Belum lagi dengan masuknya ‘proyek-proyek pesanan’ negara-negara dan LSM Barat dalam studi dan pemikiran Islam. Masuknya studi kritis Al-Quran dan mata kuliah hermeneutika, misalnya, tidak bisa dianggap hal yang enteng.
Penggunaan epistemologi relatif dalam studi agama di Ushuluddin telah membongkar framework studi agama-agama dalam tradisi Islam yang berbasis pada keimaman Islam.
Ketika mengisi satu seminar di Yogyakarta pada 18 Agustus 2006 lalu, seorang peserta menyatakan, bahwa dalam studi ilmu-ilmu agama, metodologi Barat lebih baik dibandingkan dengan metodologi Islam. Pernyataan semacam ini sudah sering disampaikan dalam berbagai buku dan kesempatan. Padahal, biasanya yang mereka maksud dengan ‘metodologi’ yang baik adalah dalam soal teknik penulisan. Misalnya, karena banyak catatan kakinya, maka suatu tulisan disebut ilmiah dan bagus.
Kita tidak menolak metode semacam ini. Bahkan, perlu memberikan apresiasi terhadap ketekunan dankesungguhan para orientalis dalam melakukan penelitian dan penulisan tentang Islam. Terutama dengan kesungguhan mereka dalam menghimpun literatur-literatur Islam.
Tetapi, kita juga perlu senantisa kritis, bahwa dalam metodologi atau lebih tepatnya framework kajian agama, ada perbedaan yang mendasar antara Islam dengan para orientalis pada umumnya. Bagi seorang Muslim, belajar agama bertujuan untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, yang dapat meningkatkan iman dan ibadah kepada Allah. Sebab, tidaklah manusia diciptakan kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah. (QS
51:56).
Seorang Muslim yakin, bahwa mencari ilmu itu sendiri adalah kewajiban dan merupakan ibadah. Karena itu, kita diajarkan untuk senantiasa berdoa, mudah-mudahan kita dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu yang manfaat adalah ilmu yang menghasilkan dan memperkuat keimanan, dan bukan ilmu yang menambah keraguan dan kebingungan, serta semakin menjauhkan diri dari ibadah kepada Allah.
Metode studi agama cara Islam ini tentu berbeda dengan metode para studi agama ‘gaya Barat’ yang lebih diarahkan untuk menjadi ‘ilmuwan dan pengamat keagamaan’. Karena itu, dalam model studi seperti ini, para dosen tidak mempersoalkan apakah mahasiswa itu sesat atau benar. Suatu skripsi atau tesis tetap diluluskan jika dianggap sudah memenuhi syarat metode penulisan ilmiah, tanpa peduli apakah karya ilmiah itu benar atau salah dari segi isinya dalam pandangan Islam. Bahkan, banyak yang sudah bersifat skeptis dan agnostik terhadap kebenaran, dengan menyatakan, bahwa manusia tidak akan tahu kebenaran sejati, yang tahu kebenaran hanya Allah. Tentu saja ini sangat keliru, sebab Allah telah menurunkan wahyu-Nya kepada manusia melalui Nabi dan Rasul dengan tujuan untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Kita berharap para dosen di perguruan tinggi Islam dan para pejabat Departemen Agama sadar akan amanah berat yang mereka pikul saat ini, sehingga mereka tidak bersantai-santai atau bermain-main dalam hal ilmu agama.
Mereka perlu sadar, bahwa upaya untuk meruntuhkan Islam yang sangat strategis adalah dengan cara merusak konsep-konsep keilmuan Islam. Itulah yang sejak berabad-abad lalu dilakukan oleh para orientalis.
Dalam pasal 2, Perpres No 11 tahun 1960, tentang pembentukan IAIN disebutkan, bahwa tujuan pembentukan IAIN adalah: “IAIN tersebut bermaksud untuk memberi pengadjaran tinggi dan mendjadi pusat untuk memperkembangkan dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang Agama Islam.”
Jadi, sesuai dengan niat mulia sejak awalnya, perguruan-perguruan tinggi Islam harus menjadi pusat pengembangan dan pendalaman ilmu tentang agama Islam. Tentu, sebagai umat Islam Indonesia, kita berharap, dari kampus-kampus ini lahir para cendekiawan dan ulama yang berilmu tinggi dan taat kepada Allah. Untuk itu, agar menjadi kampus Islam yang benar-benar sehat, segala macam jenis kuman dan virus-virus yang merusak ilmu-ilmu Islam harus mulai dikaji, diteliti, untuk selanjutnya ‘dijinakkan’ dan diamankan’.
Cita-cita mulia itu tidak akan terwujud, jika civitas academica di kampus Islam tidak bisa membedakan mana yang ‘obat’ dan mana yang ‘racun’; mana ilmu yang bermanfaat dan mana ilmu yang madharat. Jika tidak paham atau tidak peduli dengan masalah ini, bisa jadi, kampus yang semula didirikan dengan niat begitu mulia, akhirnya secara tidak sadar sudah dibajak oleh para orientalis. Wallahu a’lam.


Read More......

Imajination

Sabtu, 28 Maret 2009

“Imajination is more important than knowledge”
-Albert Einstein-

Arwah Penasaran, ketika mendengar frasa arwah penasaran apa yang terbayang dalam pikiran kita? Pasti sosok makhluk halus, roh orang yang telah meninggal kembali menemui orang-orang yang masih punya urusan yang belum terselesaikan, atau yang lebih horror sang mayat matinya diluar kewajaran, makanya dia penasaran; kayak gimana sih mati yang wajar?
Walaupun cerita ini hanyalah sekedar mitos atau dongeng yang sudah menjadi trademark budaya kita. Tentu ada rahasia besar yang tersimpan dalam mitos ini, dan tidak ada salahnya jika kita -meminjam istilah jaques derrida-, mendekonstruksi mitos ini dan mengambil satu, dua poin yang dapat kita petik sebagai sebuah pelajaran. Dan mudah-mudahan mitos ini benar-benar akan hancur.
Jika kita analisa dengan logika terbalik, dengan tidak menganggap mitos arwah penasaran sebagai sebuah cerita horror yang menakutkan. Namun kita harus mengubah paradigma dengan memandang ini sebagai sebuah kisah perjuangan seseorang yang sangat penasaran dengan sebuah impian yang belum terwujud semasa hidup di dunia, dan sampai jasadnya di makan cacingpun ia tetap berusaha untuk memuaskan hasrat penasarannya.
Tidakkah kita sadar betapa rasa penasaran sangatlah mempengaruhi tindakan atau arah langkah seseorang. Bahkan melebihi pengaruh rasa keingintahuan. Sebab rasa ingin tahu lahir dari benih rasa penasaran yang terlebih dahulu tumbuh dalam jiwa kita.

“Imajination is more important than knowledge”
-Albert Einstein-

Arwah Penasaran, ketika mendengar frasa arwah penasaran apa yang terbayang dalam pikiran kita? Pasti sosok makhluk halus, roh orang yang telah meninggal kembali menemui orang-orang yang masih punya urusan yang belum terselesaikan, atau yang lebih horror sang mayat matinya diluar kewajaran, makanya dia penasaran; kayak gimana sih mati yang wajar?
Walaupun cerita ini hanyalah sekedar mitos atau dongeng yang sudah menjadi trademark budaya kita. Tentu ada rahasia besar yang tersimpan dalam mitos ini, dan tidak ada salahnya jika kita -meminjam istilah jaques derrida-, mendekonstruksi mitos ini dan mengambil satu, dua poin yang dapat kita petik sebagai sebuah pelajaran. Dan mudah-mudahan mitos ini benar-benar akan hancur.
Jika kita analisa dengan logika terbalik, dengan tidak menganggap mitos arwah penasaran sebagai sebuah cerita horror yang menakutkan. Namun kita harus mengubah paradigma dengan memandang ini sebagai sebuah kisah perjuangan seseorang yang sangat penasaran dengan sebuah impian yang belum terwujud semasa hidup di dunia, dan sampai jasadnya di makan cacingpun ia tetap berusaha untuk memuaskan hasrat penasarannya.
Tidakkah kita sadar betapa rasa penasaran sangatlah mempengaruhi tindakan atau arah langkah seseorang. Bahkan melebihi pengaruh rasa keingintahuan. Sebab rasa ingin tahu lahir dari benih rasa penasaran yang terlebih dahulu tumbuh dalam jiwa kita.


Read More......

Menyelami Samudera Pemikiran M. Iqbal

.Pendahuluan

Alhamdulillah, segala puji kita ucapkan kepada Allah swt atas semua nikmat dan karuniaNya. Shalawat dan Salam kita mohonkan kepada Allah swt, semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah saw.
Berbicara mengenai dunia filsafat adalah ibarat menyelesaikan benang kusut. Membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi dalam menyelami setiap ide dan pemikiran para filosof yang berbicara dalam bahasa dan struktur kata yang nyelimet. Namun, tentu saja dibalik semua usaha yang tinggi kita akan mendapatkan hasil yang juga sangat berharga.
Dalam makalah ini, kami mencoba mengangkat seorang filosof pembaharu Islam, Muhammad Iqbal. Iqbal yang bukan saja berpengaruh di negerinya Pakistan, tapi juga di Indonesia sendiri1. Disini kami mencoba menguraikan tentang ide dan pemikiran Iqbal khususnya dalam bidang filsafat dan juga beberapa kritik Iqbal terhadap beberapa permasalahan lainnya.
Di dalam kehidupannya, Iqbal berusaha secara serius terhadap perumusan dan pemikiran kembali tentang Islam. Sebagimana konsep Islam yang komprehensif, artinya Islam ialah sebuah konsep yang mengatur tatanan kehidupan manusia mulai dari hal yang paling besar –negara- sampai kepada sesuatu yang bersifat privasi –individu-. Meskipun Iqbal tidak diberi umur panjang, tapi lewat tarian penanyalah yang menghempaskan bangunan kejumudan umat Islam untuk kembali bangkit. Memang pena lebih tajam dari pada pedang. Dia mengkritik sebab kemunduran Islam kerena kurang kreatifnya umat Islam, konkritnya bahwa pintu Ijtihad telah ditutup. Sehingga umat Islam hanya bisa puas dengan keadaan yang sekarang didalam kejumudan.
Selanjutnya, kami mencoba menghadirkan sebuah pembahasan yang sekiranya dapat menjadi referensi bagi sebagian orang yang tertarik dalam mendalami dunia filsafat, juga dapat menjadikan filsafat sebagai sebuah konsep ilmu terapan yang bisa diaplikasikan dalam menghadapi pelbagai problematika umat Islam. Sebagaimana yang pernah diucapkan Socrates (filosof Yunani) filsafat itu harus turun kebumi, jangan diawang-awang saja.

B.Riwayat Singkat

Muhammad Iqbal (1877-1938 M) lahir di Sialkot, Punjab, wilayah Pakistan (sekarang), 9 Nopember 1877M, dari keluarga yang religius. Ayahnya, Muhammad Nur adalah seorang tokoh sufi, sedang ibunya, Imam Bibi, juga dikenal sebagai muslimah yang salehah. Pendidikan formalnya dimulai di Scottish Mission School, di Sialkot, di bawah bimbingan Mir Hasan, seorang guru yang ahli sastra Arab dan Persia. Kemudian di Goverment College, di Lahore, sampai mendapat gelas BA, tahun 1897, dan meraih gelar Master dalam bidang filsafat, tahun 1899, dibawah bimbingan Sir Thomas Arnold, seorang orientalis terkenal. Selama pendidikan ini, Iqbal menerima beasiswa dan dua medali emas karena prestasinya dalam bahasa Arab & Inggris2
Iqbal kemudian menjadi dosen di Goverment College dan mulai menulis syair-syair dan buku. Akan tetapi, di sini tidak dijalani lama, karena pada tahun 1905, atas dorongan Arnold, Iqbal berangkat ke Eropa untuk melanjutkan studi di Trinity College, Universitas Cambridge, London, sambil ikut kursus advokasi di Lincoln Inn. Di lembaga ini ia banyak belajar pada James Wird dan JE. McTaggart, seorang neo-Hegelian. Juga sering diskusi dengan para pemikir lain serta mengunjungi perpustakaan Cambridge, London dan Berlin. Untuk keperluan penelitiannya, ia pergi ke Jerman mengikuti kuliah selama dua semester di Universitas Munich yang kemudian mengantarkannya meraih gelar doctoris philosophy gradum, gelar doctor dalam bidang filsafat pada Nopember 1907, dengan desertasi The Development of Metaphysics in Persia, di bawah bimbingan Hommel. Selanjutnya, balik ke London untuk meneruskan studi hukum dan sempat masuk School of Political Science3.
Yang penting dicatat dalam kaitannya dengan gagasan seni Iqbal adalah tren pemikiran yang berkembang di Eropa saat itu. Menurut MM Syarif, masyarakat Jerman, saat Iqbal tinggal di sana, sedang berada dalam cengkeraman filsafat Nietzsche (1844-1990 M), yakni filsafat kehendak pada kekuasaan. Gagasannya tentang manusia super (superman) mendapat perhatian besar dari para pemikir Jerman, seperti Stefen George, Richard Wagner dan Oswald Spengler. Hal yang sama terjadi juga di Perancis, berada dibawah pengaruh filsafat Henri Bergson (1859-1941 M), élan vital, gerak dan perubahan. Sementara itu, di Inggris, Browning menulis syair-syair yang penuh dengan kekuatan dan Carlyle menulis karya yang memuji pahlawan dunia. Bahkan, dalam beberapa karyanya, Lloyd Morgan dan McDougall, menganggap tenaga kepahlawanan sebagai essensi kehidupan dan dorongan perasaan keakuan (egohood) sebagai inti kepribadian manusia. Filsafat vitalitis yang muncul secara simultan di Eropa tersebut memberikan pengaruh yang besar pada Iqbal4.
Selanjutnya, saat di London yang kedua kalinya, Iqbal sempat ditunjuk sebagai guru besar bahasa dan sastra Arab di Universitas London, menggantikan Thomas Arnold. Juga diserahi jabatan ketua jurusan bidang filsafat dan kesusastraan Inggris di samping mengisi ceramah-ceramah keislaman. Ceramahnya di Caxton Hall, yang pertama kali diadakan, kemudian disiarkan mass media terkemuka Inggris. Namun, semua itu tidak lama, karena Iqbal lebih memilih pulang ke Lahore, dan membuka praktek pengacara di samping sebagai guru besar di Goverment College Lahore. Akan tetapi, panggilan jiwa seninya yang kuat membuat ia keluar dari profesi tersebut. Ia juga menolak ketika ditawari sebagai guru besar sejarah oleh Universitas Aligarh, tahun 1909. Iqbal lebih memilih sebagai penyair yang kemudian mengantarkannya ke puncak popularitas sebagai seorang pemikir yang mendambakan kebangkitan dunia Islam5.
Akhir tahun 1926, Iqbal masuk kehidupan politik ketika dipilih menjadi anggota DPR Punjab. Bahkan, tahun 1930, ia ditunjuk sebagai presiden sidang Liga Muslim yang berlangsung di Allahabad, yang menelorkan gagasan untuk mendirikan negara Pakistan sebagai alternatif atas persoalan antara masyarakat muslim dan Hindu. Meski mendapat reaksi keras dari para politisi, gagasan tersebut segera mendapat dukungan dari berbagai kalangan, sehingga Iqbal diundang untuk menghadiri Konferensi Meja Bundar di London, tahun 1932, juga konferensi yang sama pada tahun berikutnya, guna membicarakan gagasan tersebut. Tahun 1935 ia diangkat sebagai ketua Liga Muslim cabang Punjab dan terus berkomunikasi dengan Ali Jinnah. Namun, pada tahun yang sama, ia mulai terserang penyakit, dan semakin parah sampai mengantarkannya pada kematian, tanggal 20 April 19386.
Iqbal mewariskan banyak karya tulis, berbentuk prosa, puisi, jawaban atas tanggapan orang atau kata pengantar bagi karya orang lain. Kebanyakan karya-karya ini menggunakan bahasa Persia, semua ia maksudkan agar karyanya bisa diakses oleh dunia Islam, tidak hanya masyarakat India. Sebab, saat itu, bahasa Persi adalah bahasa yang dominan di dunia Islam dan dipakai masyarakat terpelajar. Karya-karyanya, antara lain, The Development of Metaphysic in Persia (desertasi, terbit di London, 1908), Asra-I Khudi (Lahore, 1916, tentang proses mencapai insan kamil) Rumuz-I Bukhudi (Lahore, 1918), Javid Nama (Lahore, 1932), The Reconstruction of Religious Thought in Islam (London, 1934), Musafir (Lahore, 1936), Zarb-I Kalim (Lahore, 1937), Bal-I Jibril (Lahore, 1938), dan Letters and Writings of Iqbal (Karachi, 1967, kumpulan surat dan artikel Iqbal)

C.Gagasan dan pemikiran M. Iqbal

Methafisika
Dalam pemikiran filsafat, Iqbal mengumandangkan misi kekuatan dan kekuasaan Tuhan, selain itu beliau juga menyatakan bahwasanya pusat dan landasan organisasi kehidupan manusia adalah ego yang dimaknai sebagai seluruh cakupan pemikiran dan kesadaran tentang kehidupan. Ia senantiasa bergerak dinamis untuk menuju kesempurnaan dengan cara mendekatkan diri pada ego mutlak, Tuhan. Karena itu, kehidupan manusia dalam keegoanya adalah perjuangan terus menerus untuk menaklukkan rintangan dan halangan demi tergapainya Ego Tertinggi. Dalam hal ini, karena rintangan yang terbesar adalah benda atau alam, maka manusia harus menumbuhkan instrumen-instrumen tertentu dalam dirinya, seperti daya indera, daya nalar dan daya-daya lainnya agar dapat mengatasi penghalang-penghalang tersebut. Selain itu, manusia juga harus terus menerus menciptakan hasrat dan cita-cita dalam kilatan cinta (`isyq), keberanian dan kreativitas yang merupakan essensi dari keteguhan pribadi. Seni dan keindahan tidak lain adalah bentuk dari ekspresi kehendak, hasrat dan cinta ego dalam mencapai Ego Tertinggi tersebut7.
Kendati mengumandangkan misi kekuatan dan kekuasaan Tuhan, namun Iqbal tidak menjadikannya membunuh ego kreasi yang bersemayam di kedalaman diri. Ia selalu membuka katup cakrawala pemikirannya atas dunia di luar Islam (terutama Barat). Ketika Iqbal meramu postulat, "Saya berbuat, karena itu saya ada (I act, therefore I exist)", membedakannya dengan pemikir Muslim terdahulu yang banyak terjebak kenikmatan "asketisme di sana ".
Menyatukan diri dengan Tuhan, tetapi ego kreasi dalam diri terkikis habis. Gejala tersebut oleh Iqbal diistilahkan dengan "kesadaran mistis" dan tentunya sangat bertentangan dengan "kesadaran profetik". Kesadaran mistik adalah istilah yang digunakan Iqbal untuk mengategorikan konsep wahdah al-wujud sebagai salah satu usaha yang dilakukan manusia dengan menafikan kehendak pribadi ketika mengidentifikasikan diri dengan Tuhan. Maka, aktivitas kreatif menjadi tidak terlihat dalam hidup keseharian. Sedangkan, kesadaran profetik adalah sebuah cara mengembangkan kesadaran melalui aktivitas kreatif yang bebas dan melalui kesadaran bahwa aktivitas kreatif manusia adalah aktivitas Ilahi.
Jadi, konsep wahdah al-wujud dalam perspektif Iqbal adalah pengidentifikasian keinginan pribadi dengan kehendak Tuhan melalui cara penyempurnaan diri, bukan penafian diri. Kehendak manusia pada posisi demikian menjadi otonom, tetapi tetap dalam koridor bimbingan Ilahi. Iqbal tidak serta merta mengakui kedaulatan postulat milik Descartes, cogito ergo sum, karena eksistensi manusia tidak ada hanya dengan melakukan kegiatan berpikir untuk mengeksiskan diri. Intelektualisme yang hanya mendewakan rasionalitas tidak akan eksis tanpa ada aktivisme yang berdimensi praktis.

Estetika

Berdasarkan konsep kepribadian yang memandang kehidupan manusia yang berpusat pada ego inilah, Iqbal memandang kemauan adalah sumber utama dalam seni, sehingga seluruh isi seni –sensasi, perasaan, sentimen, ide-ide dan ideal-ideal— harus muncul dari sumber ini. Karena itu, seni tidak sekedar gagasan intelektual atau bentuk-bentuk estetika melainkan pemikiran yang lahir berdasarkan dan penuh kandungan emosi sehingga mampu menggetarkan manusia (penanggap)8. Seni yang tidak demikian tidak lebih dari api yang telah padam.
Karena itu, Iqbal memberi kriteria tertentu pada karya seni ini. Pertama, seni harus merupakan karya kreatif sang seniman, sehingga karya seni merupakan buatan manusia dalam citra ciptaan Tuhan. Ini sesuai dengan pandangan Iqbal tentang hidup dan kehidupan. Menurutnya, hakekat hidup adalah kreativitas karena dengan sifat-sifat itulah Tuhan sebagai sang Maha Hidup mencipta dan menggerakan semesta. Selain itu, hidup manusia pada dasarnya tidaklah terpaksa melainkan sukarela, sehingga harus ada kreativitas untuk menjadikannya bermakna. Karena itu, dalam pandangan Iqbal, dunia bukan sesuatu yang hanya perlu dilihat atau dikenal lewat konsep-konsep tetapi sesuatu yang harus dibentuk dan dibentuk lagi lewat tindakan-tindakan nyata.
Dalam pemikiran filsafat, gagasan seni Iqbal tersebut disebut sebagai estetika vitalisme, yakni bahwa seni dan keindahan merupakan ekspresi ego dalam kerangka prinsip-prinsip universal dari suatu dorongan hidup yang berdenyut di balik kehidupan sehingga harus juga memberikan kehidupan baru atau memberikan semangat hidup bagi lingkungannya, atau bahkan mampu memberikan “hal baru” bagi kehidupan9. Dengan menawan sifat-sifat Tuhan dalam penyempurnaan kualitas dirinya, manusia harus mampu menjadi “saingan” Tuhan. Di sinilah hakekat pribadi yang hidup dalam diri manusia dan menjadi kebanggaannya dihadapan Tuhan. Mari kita lihat syairnya.
Kedua, berkaitan dengan pertama, kreatifitas tersebut bukan sekedar membuat sesuatu tetapi harus benar-benar menguraikan jati diri sang seniman, sehingga karyanya bukan merupakan tiruan dari yang lain (imitasi), dari karya seni sebelumnya maupun dari alam semesta. Bagi Iqbal, manusia adalah pencipta bukan peniru, dan pemburu bukan mangsa, sehingga hasil karya seninya harus menciptakan ‘apa yang seharusnya’ dan ‘apa yang belum ada’, bukan sekedar menggambarkan ‘apa yang ada’ (Azzam, 1985, 141). Dalam salah satu puisinya, Iqbal mengecam dan menyebut sebagai kematian terhadap seni Timur yang meniru seni Barat.
Di negeri ini berjangkit kematian imaginasi
Karena seni asing dan mengikuti Barat
Kulihat awan kelabu dan Behzad masaku
Merombak dunia Timur yang kemilau nan abadi
O, para seni di Timur
Usai sudah kreasi masa kini dan masa lalu
Berapa banyak kreasi tercipta
Tunjukkan pada kami pribadi
Pada semua bidang membumbung tinggi
Konsep-konsep seni dan keindahan Iqbal tersebut hampir sama dengan teori seni Benedetto Croce (1866-1952 M), seorang pemikir Italia yang sezaman dengan Iqbal. Menurutnya, seni adalah kegiatan kreatif yang tidak mempunyai tujuan dan juga tidak mengejar tujuan tertentu kecuali keindahan itu sendiri, sehingga tidak berlaku kriteria kegunaan, etika dan logika. Kegiatan seni hanya merupakan penumpahan perasaan-perasaan seniman, visi atau intuisinya, dalam bentuk citra tertentu, baik dalam bentuk maupun kandungan isinya. Jika hasil karya seni ini kemudian diapresiasi oleh penanggap, hal itu disebabkan karya seni tersebut membangkitkan intuisi yang sama pada dirinya sebagaimana yang dimiliki oleh sang seniman10. Dengan pernyataan seperti ini, mengikuti Syarif, teori Croce berarti terdiri atas empat hal, (1) bahwa seni adalah kegiatan yang sepenuhnya mandiri dan bebas dari segala macam pertimbangan etis, (2) bahwa kegiatan seni berbeda dengan kegiatan intelek. Seni lebih merupakan ekspresi diri atas pengalaman individu (intuitif) dan menghasilkan pengetahuan langsung dalam bentuk individualitas kongkrit, sedang intelek lebih merupakan kegiatan analitis dan menghasilkan pengetahuan reflektif. (3) bahwa kegiatan seni ditentukan oleh perkembangan kepribadian seniman, (4) bahwa apresiasi adalah penghidupan kembali pengalaman-pengalaman seniman didalam diri penanggap.
Pandangan seni Iqbal tidak berbeda dengan teori Croce tersebut, kecuali pada bagian pertama. Iqbal menolak keras kebebasan seni dan keterlepasaannya dari etika. Iqbal justru menempatkan seni dibawah kendali moral, sehingga tidak ada yang bisa disebut seni –betatapun ekspresifnya kepribadian sang seniman— kecuali jika mampu menimbulkan nilai-nilai yang cemerlang, menciptakan harapan-harapan baru, kerinduan dan aspirasi baru bagi peningkatan kualitas hidup manusia dan masyarakat. Dengan demikian, gagasan seni Iqbal tidak hanya ekspresional tetapi sekaligus juga fungsional.

Etika
Dalam filsafat tentang etika Iqbal menghimbau masyarakat timur (umat Islam), untuk kembali kepada ajaran Islam yang agung serta menjauhi peradaban Barat (Eropa) yang merusak. Iqbal memandang bahwasanya sebab kemunduran umat Islam adalah kecendrungan yang membabibuta terhadap kebudayaan Barat yang telah membunuh karakter mereka dengan terus mengadopsi budaya-budaya Barat tanpa proses filterisasi.
Iqbal mengungkapkan pandangannya terhadap budaya Barat: “Akan tetapi terpulanglah kepada kalian dan peradaban tanpa agama yang menghadapi pertarungan yang berkepanjangan dengan al-Hak. Sesungguhnya malapetaka ini telah menghasilkan bencana yang besar kepada dunia seperti kembalinya al-Latta dan al-Uzza (keberhalaan) ke Tanah Haram Mekah, dimana hati manusia menjadi buta dengan sihirnya dan jiwa menjadi mati. Ia telah memadamkan cahaya hati atau menghilangkan hati dari pemiliknya. Ia juga telah mengubah siang yang terang benderang dengan meninggalkan insan tanpa roh dan tanpa nilai apa-apa lagi”.
“Walaupun ilmu pengetahuan berkembang dan perusahaan maju di Eropa, namun lautan kegelapan memenuhi kehidupan mereka. Sesungguhnya ilmu pengetahuan, hikmah, politik dan pemerintahan yang berjalan di Eropa tidak lebih dari ketandusan dan kekeringan. Perkembangan itu telah mengorbankan darah rakyat dan jauh sekali dari arti nilai kemanusiaan dan keadilan. Apa yang terjadi ialah kemungkaran, meminum arak dan kemiskinan terbentang luas di negeri mereka. Inilah akibat yang menimpa umat manusia yang tidak tunduk kepada undang-undang Samawi ciptaan Ilahi. Inilah dia negeri-negeri yang hanya berbangga dengan terang benderang cahaya listrik dan teknologi modern. Dan sesungguhnya negeri-negeri yang dikuasai oleh alat-alat dan industri ini telah memusnahkan hati-hati manusia dan membunuh kasih sayang, kesetiaan dan makna kemanusiaan yang mulia”.
Selanjutnya kata Iqbal, gerakan perkembangan ilmu pengetahuan dan rasionalisasi yang berlangsung dikalangan peradaban Barat tidak hanya membawa bahaya bagi bangsa mereka sendiri. Perkembangan teknologi informasi di era modern telah membawa kerusakan ini merasuki negeri-negeri Islam, yang merusak kejiwaan dan spritual umat Islam. Bagaimanapun, apa yang dikhawatirkan ialah munculnya gejala kebekuan dan kelumpuhan di kalangan umat Islam itu sendiri.
Walaupun di satu sisi peradaban Barat dilihat secara positif dari aspek ilmiah, tetapi bagi Iqbal, beliau merasakan bahwa di dalam jiwa bangsa Barat tidak ada lagi wujud kasih sayang sesama umat manusia walaupun mereka sering mendengungkan nilai-nilai humanisme. Dan tidak ada lagi kepercayaan Barat kepada kebebasan, keadilan atau persamaan. Apa yang terjadi hanyalah bersifat teori dan bukannya praktek.
Dalam pengulasan lebih lanjut, Iqbal secara berani mengeluarkan pernyataan: “Perkembangan Eropa itu sebenarnya tidak pernah memasuki kehidupan kemasyarakatan dalam bentuk yang amali dan hidup. Apa yang mereka slogankan dengan konsep demokrasi hanyalah pembahasan ilmiah, tetapi apa yang sebenarnya adalah penimbunan kekayaan golongan hartawan di atas air mata golongan fakir miskin”.
Justru bagi Iqbal, hanya Islam yang mampu menyelesaikan semua permasalahan manusia. Ini karena kaum Muslimin memiliki pemikiran dan akidah yang kukuh dan sempurna - diasaskan atas petunjuk wahyu (al-Quran; S 3 : 110). Pemikiran dan pegangan yang kukuh ini dapat menjadi solusi kepada pelbagai problem kehidupan karena mempunyai kekuatan sama ada dari segi rohani maupun jasmani.
Di sisi lain, Islam mengandung kekuatan yang mampu menangani semua permasalahan hidup manusia disebabkan sistem hidupnya yang bersandarkan kepada keimanan dan keagamaan. Dalam waktu yang sama Islam juga mendukung prinsip kebebasan, keadilan sesama manusia dalam kelompok sosialnya (al-Quran; S 4 : 36). Oleh karena itu ia mendorong manusia untuk melaksanakan ajaran Islam demi tercapainya tujuan tersebut.
Adapun peraturan ciptaan manusia telah gagal mengemukakan gagasan penyelesaian dan mengangkat derajat kemanusian kerana ia bersifat lemah (sementara).
Dunia yang selama ini ditafsirkan dari pendekatan materialisme adalah dunia yang buta dan kosong. Apa yang bergerak selama ini adalah gerakan tanpa nilai dan tanpa memiliki apa-apa tujuan. Berbeda sekali dengan pendekatan al-Quran terhadap kejadian alam, di mana dunia dan alam menurut ajaran Islam adalah berasaskan kepada kebenaran dan keadilan (al-Quran; S 4 : 135, S 6 : 153 dan S 16 : 90).
Sesungguhnya, gagasan pemikiran yang diberikan oleh Iqbal telah memberikan harapan yang baik kepada Islam di masa depan . Bagaimanapun, apa yang diragukan hanyalah, sejauh manakah perlaksanaan Islam dalam kehidupan masyarakatnya pada waktu ini?. Adakah Islam yang hakiki terwujud dikalangan umatnya atau hanya sekadar dari aspek syiar semata-mata?.

D.Kesimpulan

Muhammad Iqbal merupakan sosok pemikir multidisiplin. Di dalam dirinya berhimpun kualitas kaliber internasional sebagai seorang sastrawan, negarawan, ahli hukum, pendidik, filosof dan mujtahid. Sebagai pemikir Muslim dalam arti yang sesungguhnya, Iqbal telah merintis upaya pemikiran ulang terhadap Islam demi kemajuan kaum muslimin.
Islam sebagai way of life yang lengkap mengatur kehidupan manusia, ditantang untuk bisa mengantisipasi dan mengarahkan gerak dan perubahan tersebut agar sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh sebab itu, Islam dihadapkan kepada masalah signifikan, yaitu sanggupkah Islam memberi jawaban yang cermat dan akurat dalam mengantisipasi gerak dan perubahan ini?.
Iqbal tidaklah menetapkan suatu pandangan praktis dalam filsafatnya, namun ia berusaha mengugah cara pandang kaum muslimin yang selama ini terjebak dalam cara pandang yang statis dalam memandang dunia. Namun karena kehidupan manusia yang cendrung dinamis malah menjadikan umat Islam menjadi pembebek terhadap Bangsa Barat, dengan menanggalkan baju keislaman mereka. Dari sinilah Iqbal merekonstruksi paradigma kaum muslimin agar mampu hidup dalam dinamika kehidupan yang normal namun tetap dalam koridor sebagai seorang muslim yang mengabdi kepada Tuhannya.

Daftar Pustaka
1.Muhammad Iqbal. Drs., “Rekonstruksi Pemikran Islam”, Kalam Mulia, 1994, hal. 126
2.Mukti Ali, “Alam Pikiran Islam Modern di India & Pakistan”. Mizan. 1998. Hal. 174
3.Bilgrami, “Iqbal Sekilas Tentang Hidup dan Pikiran-Pikirannya”, terj. Djohan Effendi. Bulan Bintang. 1982. Hal. 16
4.Syarif, “Iqbal tentang Tuhan dan Keindahan”, terj. Yusuf Jamil. Mizan, 1993. Hal. 93-94
5.Bilgrami, “Iqbal Sekilas Tentang Hidup dan Pikiran-Pikirannya”, terj. Djohan Effendi. Bulan Bintang. 1982. Hal. 15
6.Abd Wahhab Azzam. “Filsafat dan Puisi Iqbal”, terj. Rafi Utsman. Pustaka. 1985. Hal. 38-43
7.Syarif, “Iqbal tentang Tuhan dan Keindahan”, terj. Yusuf Jamil. Mizan. 1993. Hal. 99
8.Ibid, 133
9.Ali Mudhaffir. “Kamus Teori & Aliran dalam Filsafat”. Liberty. 1988. Hal. 100
10.Syarif, “Iqbal tentang Tuhan dan Keindahan”, terj. Yusuf Jamil. Mizan. 1993. Hal. 131



Read More......

SAINS DARI TUHAN (*)

Frustrasi oleh kegagalan mereka untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada, ilmuwan memberikan spin baru: menjadi Tuhan.
Ini mungkin pertarungan kelas berat yang terpanjang dalam sejarah: di sudut merah, manusia dengan Jas Lab Putih, dan di sudut biru, Tuhan. Berabad-abad sains dan agama telah bertarung, setiap pihak dengan pendukung dan berharap akan pukulan knock-out. Anda mungkin berpikir manusia dengan Jas Lab Putih telah membuat lawannya bergantung di atas tali sejak ronde pertama 300 tahun yang lalu. Dari pukulan pertama mengenai apakah bumi mengelilingi matahari sampai dengan upper-cut dari teori evolusi, ilmuwan kelihatannya lebih banyak mengumpulkan nilai.
Apakah Tuhan sudah berakhir? Mungkin belum. Karena bagaimanapun keras mencoba, manusia dengan Jas Lab Putih belum dapat memberikan pukulan knock-out. Tuhan mungkin tidak berperan sebesar yang manusia kira, tetapi bukti yang nyata bahwa Dia hanyalah ilusi belum lagi ada. Kenyataannya, sebagian ilmuwan sekarang berpikir bahwa mereka melihat tanda-tanda Tuhan Juru Desain Besar dalam teori paling baru tentang alam semesta.
Sebagian bukti muncul dari "kebetulan" yang aneh dalam sifat-sifat kunci dari alam semesta, yang dikatakan oleh kosmologis tidak mungkin kebetulan. Karena kalau kebetulan ini tidak ada, kita juga tidak akan ada.
Kemudian ada motif-motif yang indah dan aneh dalam teori partikel sub-atomik, yang sifat-sifatnya jatuh ke dalam segi-enam dan segi tiga: bentuk-bentuk yang membawa ilmuwan membuka dasar-dasar alam semesta.

Dalam Pikiran Tuhan

Dalam mencoba untuk membuka arti dari tanda-tanda ini, beberapa ilmuwan berpikir bahwa mereka mulai mendekati apa yang bahkan disebut oleh atheis terkenal Stephen Hawking sebagai Pikiran Tuhan: Rencana besar yang dibangun ke dalam alam semesta. Ada juga teori, yang kurang dikenal, bahwa kita cukup mengetahui tentang Disain Besar ini untuk mulai berperan sebagai Tuhan, menciptakan alam semesta bayi paling sedikit dalam abstrak.
Ide bahwa alam penuh dengan tanda-tanda keberadaan pencipta yang cerdas bukanlah hal yang baru. Dulu, sejauh 1802, filsuf Inggris William Paley memberikan "Argumen dari desain" yang terkenal, mengklaim bahwa sesuatu yang kompleks dan alami seperti mata manusia tidak mungkin muncul karena kebetulan saja, tetapi memerlukan keberadaan dari desainer yang cerdas.
Tidak banyak lagi yang percaya pada argumen Paley tersebut: contoh- contohnya semua terbunuh oleh teori evolusi Darwin, yang memperlihatkan bahwa bahkan keajaiban seperti desain dari mata manusia dapat diterangkan oleh kombinasi dari random mutasi dan seleksi alam.
Tetapi, walaupun argumen Paley telah banyak berlubang oleh ahli-ahli biologi, penemuan dalam fisika fundamental mulai membuat ide penciptaan dari desain kelihatan tidak main-main.
Tanda-tanda awal bahwa alam semesta mungkin telah didesain untuk kehidupan ditemukan 50 tahun yang lalu oleh Sir Fred Hoyle, ilmuwan astrofisika dari Inggris. Ketika mempelajari bagaimana bintang-bintang membuat unsur-unsur kimia yang diperlukan untuk kehidupan manusia, Hoyle melihat bahwa apabila unsur-unsur ini tidak memiliki sifat-sifat tertentu, maka tidak akan ada karbon di alam semesta, dan dengan demikian tidak ada kehidupan manusia.

Kekuatan itu bersama kita

Sejak itu, ilmuwan telah menemukan banyak kebetulan-kebetulan aneh yang mirip. Sebagian termasuk gaya-gaya fundamental yang mengikat alam semesta. Sebagai contoh, inti dari setiap atom dibangun oleh proton dan neutron, diikat bersama oleh yang namanya gaya nuklir kuat. Jika gaya itu sedikit saja lebih lemah, proton-proton tidak akan terikat bersama. Ini berarti tidak ada unsur yang lebih berat dari hidrogen dapat berwujud -- lagi-lagi tidak ada karbon.
Tetapi, kalau gaya tersebut sedikit lebih kuat sedikit saja, proton- proton akan bersatu terlalu mudah sehingga hidrogen tidak mungkin ada sama sekali, dan ini membuat air tidak mungkin ada, bahan kunci yang lain yang diperlukan kehidupan.
Menurut Professor Sir Martin Rees dan Universitas Cambridge, lebih banyak lagi kebetulan-kebetulan dalam sifat-sifat partikel sub-atomik. Sebagai contoh, kenyataan bahwa massa elektron jauh lebih ringan dari masa proton atau neutron adalah penting untuk keberadaan bahan-bahan yang penting bagi kehidupan. "Ini adalah prasyarat untuk molekul- molekul seperti DNA untuk dapat memberikan strukturnya yang tepat dan berbeda", katanya. "Adalah massa elektron yang menentukan besarnya sebuah atom, dan jarak antara atom-atom dalam molekul."
Kenyataan bahwa proton dan neutron mempunyai massa yang hampir sama, tetapi berbeda sedikit, juga sangat penting bagi kehidupan, kata Rees. "Sebuah neutron lebih berat dari proton sekitar 0.14%, sedikit lebih dari seperseribu. Tetapi perbedaan ini, walaupun kecil, sangat penting karena melebihi massa total dari sebuah elektron. Apabila elektron tidak seringan itu, mereka akan berkumpul dengan proton untuk membentuk neutron, sehingga tidak mungkin ada hidrogen.

Alam mengambil bentuk

Tanda-tanda lebih jauh mengenai desain besar kosmos datang dalam bentuk motif-motif aneh yang muncul ketika sifat-sifat partikel sub-atomik seperti proton dan neutron dilukis dalam grafik. Ditemukan oleh fisikawan dari Amerika Murray Gell-Mann hampir 40 tahun yang lalu, motif-motif ini berbentuk segi-enam dan segi-tiga, dimana berbagai partikel berada dalam titik-titik di dalamnya.
Ketika Gell-Mann pertama kali menemukan motif ini, terdapat gap-gap. Yakin bahwa motif ini bukan kebetulan tetapi bagian dari desain besar, dia memprediksi bahwa gap-gap ini diisi oleh partikel-partikel sub- atomik yang nanti akan ditemukan.
Gell-Mann melanjutkan bahwa segi-enam dan segi-tiga yang misterius dapat diterangkan apablila partikel seperti proton dan neutron mengandung partikel sub-sub-atomik (yang sekarang kita kenal sebagai quark). Semua prediksinya terbukti benar.
Motif-motif yang mirip dikenal sebagai "simetri" telah muncul demikian seringnya sejak itu dalam teori fisika yang sukses sehingga banyak fisikawan sekarang yakin bahwa mereka adalah bagian dari suatu desain besar dari alam semesta.
Tetapi sedikit yang ingin terus mengklaim bahwa simetri dan kebetulan yang kelihatannya ada dalam alam membuktikan bahwa Tuhan ada. "Masuknya sains dalam teologi atau filosofi dapat naive maupun dogmatik," kata Rees.
Diantara yang tidak merasa demikian adalah Professor Russel Stannard, seorang kristen dan professor fisika di universitas terbuka. "Tuhan memperlihatkan dirinya melalui dunia Big-bang kita ini," katanya. "Dia sebetulnya sedang berkata kepada kita melalui penemuan-penemuan ilmiah ini."
Stannard percaya bahwa kebetulan kosmik bukanlah kebetulan: "Tuhan sengaja membuatnya seperti itu," katanya. "Dia mendesain alam semesta khusus untuk penciptaan kehidupan, untuk membuat mahluk yang dapat mengenalNya."
Tetapi yang lain sama-sama yakin bahwa desain besar apapun tidak ada hubungannya dengan keberadaan Tuhan, dan bahwa kebetulan adalah kebetulan. Mereka juga mengatakan bahwa apabila kondisi tidak tepat untuk kehidupan, kita tidak akan ada untuk mengetahuinya. Hawking pernah mengatakan bahwa hukum fisika quantum mungkin dapat memperlihatkan bahwa Tuhan berlebihan, karena seluruh alam semesta dapat terjadi dengan sendirinya.
Beberapa, termasuk Profesor Andrei Linde dari Universitas Stanford, bahkan percaya bahwa teori quantum dapat mengijinkan mereka untuk berperan sebagai Tuhan itu sendiri, menciptakan alam-alam baru dalam laboratorium, sedikitnya dalam teori.
Linde mengatakan bahwa cara untuk seperti Tuhan adalah menekan materi sekecil mungkin sehingga memulai apa yang dinamakan medan skalar, sumber dari energi quantum yang dianggap memulai big-bang 15 milyar tahun yang lalu.
Perkiraan Linde adalah menekan hanya sepersepuluh juta gram dari materi dapat memulai untuk memunculkan medan skalar dalam laboratorium. Susahnya, materi itu harus ditekan sepermiliar kali dari besarnya partikel sub-atomik yang terkecil. "Kita tidak tahu apakah hal ini mungkin sama sekali," katanya, meskipun, mungkin kita dapat melakukannya dalam partikel akselerator.
Jika akhirnya ini mungkin, simulasi komputer memprediksi bahwa titik materi itu akan hilang, digantikan oleh lubang kecil dalam ruang- waktu – sebuah worm-hole quantum -- sebesar partikel sub-atomik. Dan di ujung yang lain adalah alam semesta buatan manusia yang baru.
Linde memperkirakan kita tidak akan dapat memasuki alam semesta ini untuk melihat apa yang sudah diciptakan: "pintu" nya akan terlalu kecil. Tetapi akan mungkin untuk mendesain alam sehingga kondisi di dalamnya akan sesuai untuk munculnya kehidupan. Kemudian mungkin kehidupan itu sendiri akan berkembang, dan mulai bertanya dari mana dia datang. Kedengarannya dikenal? Persamaannya dengan pertanyaan bagaimana kita ada disini sangat jelas.

Lelucon yang tidak terlalu lucu

Mungkinkah kita, hanyalah yang terakhir dari mahluk-mahluk yang menghuni alam yang dibuat oleh generasi sebelumnya yang telah mengetahui bagaimana membuat alam semesta? Linde tidak menolak kemungkinan ini. "Saya pertama kali memberikan ide ini sebagai lelucon," katanya. "Tetapi mungkin saja tidak."

Banyak orang menemukan bahwa ide dari ilmuwan bermain-main Tuhan seperti ini sangat menguatirkan. Pope telah memberikan peringatan bahwa riset ke dalam kelahiran alam semesta sudah terlalu jauh.
Tetapi untuk semua kekuatiran Pope, kelihatannya Manusia dengan Jas Putih tidak dalam keadaan untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Tetapi, mereka akan melakukan sesuatu yang lebih menakutkan: Menjadi Tuhan itu sendiri.

Oleh: robert Matthews
(*) Artikel ini adalah terjemahan dari _majalah_ sains populer
Fokus, edisi Maret 1999.

Keterangan gambar : gambaran abstrak tentang pelajaran hidup dari situs; www.kickandy.com


Catatan dari wedi nofrian :
Salah satu polemik yang bergulir dalam dirkursus sains modern, tentang korelasi antara keberadaan Tuhan dan Sains Modern telah membawa kita pada sebuah kenyataan pahit yang melelahkan. Sains yang didasari oleh rasionalisme modern telah berusaha menunjukkan hegemoninya atas apapun. Termasuk dengan mengingkari keberadaan Tuhan. Ide dari sains modern yang dicetuskan oleh ilmuwan dari dunia Barat, tentu saja sangat bertentangan dengan ideologi dari kebanyakan masyarakat timur (muslim). Sesuatu yang sangat diagungkan (“dituhankan”) oleh ilmuwan Barat adalah tentang objektivitas rasionalis seseorang dalam memahami suatu permasalahan, yaitu objektivitas dalam artian netralitas seseorang dalam memahami sebuah teks, terbebas dari nilai ideologi atau paham apapun. Sebuah paradigma yang keliru dalam memahami terminologi netralitas itu sendiri, saya sendiri sangatlah setuju dengan ungkapan dari Anis Malik Thoha, Netralitas adalah sejauh mana seseorang mampu dalam mempertahankan sebuah ide atau gagasan dengan membuktikan kebenaran idenya tersebut dengan fakta-fakta yang empiris.
Namun, seiring dengan perkembangan sains itu sendiri, telah membawa kita kepada keyakinan yang nyata tentang keberadaan Tuhan, baiknya lagi, kesimpulan tersebut diungkapkan oleh masyarakat ilmuwan barat sendiri.
Sungguh sangat disayangkan, generasi muda kita, lebih cendrung untuk ikut membeo dengan paham-paham para ilmuwan barat yang cendrung memusuhi agama-agama. Sebuah keputusan yang sangat tidak berdasar, kecuali hanya karena dendam masa lalu yang senantiasa dipupuk supaya tetap tumbuh subur dalam hati mereka. Sekarang sudah saatnya, kita -generasi muda- berbangga dengan keyakinan yang telah ada dalam sanubari kita selama ini. keyakinan yang bulat dengan mengakui keberadaan Tuhan sebagai sang pencipta alam semesta, dengan demikian, dengan mempelajari sains kita bisa lebih berusaha mendekatkan diri kita kepadaNya.
Untuk mendapatkan materi serta info yang lebih lugas lagi, mungkin pembaca dapat menemukannya dalam karya adnan oktar (Harun Yahya) yang lebih menjelaskan tentang keberadaan desain cerdas (Tuhan) dalam proses penciptaan alam semesta. [no_free_an]


Read More......