Prita Mulyasari dan Kebebasan Pers.

Rabu, 03 Juni 2009


Wajah perempuan itu terlihat sendu. Matanya sembab. Baju hitam yang dipadu dengan jilbab warna senada kian mempertegas kemurungan hatinya. Wajahnya tak mampu menahan kesedihan dan kerinduan kepada anak yang masih disusuinya, suami, dan keluarga. Prita Mulyasari, 32 tahun, sudah 20 hari mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tagerang akibat gugatan dari pihak Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutra, Tangerang, tempat dulu ia dirawat.

Prita menjadi tahanan yang dititipkan oleh Kejaksaan Negeri tangerang karena disangka mencemarkan nama baik rumah sakit melalui Internet. Ia dijerat dengan Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan hukuman maksimal enam tahun penjara atau denda maksimal Rp 1 miliar Ia menjadi orang kedua yang dijerat undang-undang itu setelah Narliswandi Piliang, seorang jumalis media on line.

Akibat pengurungan itu, berat badannya langsung melorot. "Selama di sini, berat badanku turun 5 kilogram," ujar karyawati di bagian call center di sebuah bank swasta ini. Selama di tahanan, Prita banyak mengisi waktu dengan mempelajari keterampilan. saat di kunjungi di ruang jenguk Lapas Wanita Tangerang yang sempit dan panas.

Perbuatan Prita Mulyasari (32) yang mengirimkan email berisi keluhan tentang pelayanan RS Omni Internasional kepada teman-teman pribadinya belum bisa dikategorikan pelanggaran dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Hal itu karena email tersebut sifatnya keluhan pribadi.

"Jika hanya bersifat keluhan pribadi ya saya rasa tidak (termasuk pelanggaran) ya. Sama seperti kita kirim SMS ke teman. Kecuali jika ada motif tertentu maka di sinilah harus dibuktikan motifnya apa," ujar mantan anggota Panitia Khusus (Pansus) UU ITE Ganjar Pranowo saat berbincang dengan detikcom, Selasa (2/6/2009).
Ganjar menambahkan, perbuatan Prita yang mengirimkan email tersebut mungkin saja tanpa motif. "Kecuali kalau teman-temannya menyebarluaskan terus ditambah-tambahi, semua pihak bisa dipertanggungjawabk an," ungkapnya.

Menurut Ganjar, perbuatan pencemaran nama baik sebagaimana diatur dalam Pasal 27 Ayat (3) UU ITE mempunyai syarat pembuktian yang cukup sulit. Seseorang yang melanggar harus dibuktikan memiliki motif sengaja mencemarkan nama baik.

Oleh karenanya penyidik jangan gegabah menggunakan pasal tersebut jika belum mempunyai bukti yang cukup. "Karena ini di dunia maya jadi berbeda dengan dunia riil," tambahnya.

Sebelumnya, Prita ditahan karena dituduh melakukan pencemaran nama baik terhadap RS Omni lewat internet. Kasus yang menimpa Prita ini berawal dari email yang dia kirim kepada teman-temannya seputar keluhannya terhadap RS Omni. Email tersebut kemudian menyebar ke publik lewat milis-milis.

Dalam emailnya, Prita merasa dibohongi oleh diagnosa dokter ketika dirawat di RS tersebut pada Agustus 2008. Dokter semula memvonis Prita menderita demam berdarah, namun kemudian menyatakan dia terkena virus udara. Tak hanya itu, dokter memberikan berbagai macam suntikan dengan dosis tinggi, sehingga Prita mengalami sesak nafas.

Saat hendak pindah ke RS lainnya, Prita mengajukan komplain karena kesulitan mendapatkan hasil laboratorium medis. Namun, keluhannya kepada RS Omni itu tidak pernah ditanggapi, sehingga dia mengungkapkan kronologi peristiwa yang menimpanya kepada teman-temannya melalui email dan berharap agar hanya dia saja yang mengalami hal serupa.

Saat ini Prita telah ditahan di Lapas Wanita Tangerang, Banten. Selain dijerat dengan pasal pencemaran nama baik, Prita juga dikenai Pasal 27 ayat (3) UU ITE No 11/2008


Read More......

Beatiful Lie

Sabtu, 28 Maret 2009

Menterjemahkan kata-kata yang keluar dari mulut menjadi sebuah tindakan merupakan sebuah perjuangan tersendiri dalam menjalani hidup. Dan sebagian besar diantara kita termasuk orang yang gagal dalam melewatinya.Tak peduli di tanah manapun kita berdiri, posisi apapun yang kita tempati, sering kita terjebak dalam lubang kemunafikan yang membinasakan ini.
Seorang pelajar atau mahasiswa yang sudah bertekad untuk menuntut ilmu sekalipun harus berjibaku menghindarinya, namun kadang tetap juga terperosok kedalamnya. Seorang yang bekerja demi dirinya sendiri dengan menjalani profesi sebagai pedagang, petani, sopir, nelayan dan jenis pekerjaan lainnya, juga mesti bekerja ekstra menyelamatkan diri dari kebuasan sifat ini. Namun kenyataannya mereka tetap jatuh bergugugran bak daun kering ketika di terpa angin kencang.

Ketika mereka yang berjuang untuk diri sendiri juga sering terjatuh kejurang kehinaan seperti ini. Bagaimanakah caranya mereka yang berjalan di atas kehendak dan kepentingan orang lain bisa selamat dari terkamannya?. Jika syahwat pribadi saja mampu mengjungkalkan idealisme seseorang, bagaimana jika syahwat tersebut berbenturan dengan kepentingan orang lain.
Di depan gedung Graha Sabili di jalan Cipinang Cempedak III, Jakarta Timur. Terpampang sebuah poster seorang caleg dari sebuah partai politik yang akan bersaing pada pemilu legislatif April mendatang tanpa dilengkapi dengan visi dan misi yang di usungnya. Sebenarnya itu bukanlah sebuah pemandangan aneh baru-baru ini. Namun, ketika saya melihat di samping photo sang caleg juga terpasang photo Barrack Obama. Saya merasa heran. Ada apa gerangan hubungan antara Obama orang US yang jauh disana, dengan sang caleg yang berada di sini, Indonesia.
Sejenak saya teringat akan sebuah pesan yang pernah di tulis oleh Subcomandante Marcos, pemimpin gerakan Zapatista, Mexico. “Percaya bahwa kita dapat berbicara atas nama mereka yang di luar jangkauan kita adalah masturbasi politik”
Saya bukan bermaksud mengatakan bahwasanya yang sekarang dilakukan para elit politik adalah sebuah kenorakan. Walau kenyataannya para elit politik sekarang memang tengah melakukan masturbasi politik berjamaah. Mereka yang akan bertarung pada April mendatang, beramai-ramai memproklamirkan pribadinya sebagai sosok yang paling sempurna dan orang lain selain dirinya adalah korup, pragmatis, hedon, tidak peduli wong cilik.
Panasnya iklim politik di negeri ini ternyata telah menghanguskan etika dan kepribadian bangsa. Demi sebuah kekuasaan orang rela menjual apapun demi mendapatkannya, bahkan harga diri. Politik telah menjadi sebuah ironi. Politik adalah lambang kenorakan yang tetap di buru dan di impikan oleh semua orang.
Bagaimana bisa Masyarakat percaya kepada anda? Jika sekarang, sebelum anda menajabat pun anda sudah menyatakan keburukan dan kejelekan anda sendiri. Menghina seseorang bukanlah sebuah prilaku politik yang bijak. Persaingan dengan mencarikan solusi nyata terhadap permasalahan bangsa adalah sebuah kampanye besar, yang akan sangat mempengaruhi perolehan suara anda pada pemilu yang akan datang.
Berhentilah memuja seorang tokoh yang di puja orang lain. Barrack Obama merupakan presiden Amerika, Negara maju. Indonesia adalah Negara berkembang. Jika solusi yang Obama tawarkan dalam mengatasi persoalan bangsa Amerika juga diterapkan di sini, Indonesia. Tentunya belumlah bisa, karena kita berada dalam kultur, budaya, yang jauh berbeda.
Sudah lama masyarakat disuguhi dengan tontonan keganasan medan politik. Politik yang mengajarkan betapa pragmatisme telah menjadi “agama” yang di puja oleh semua orang. Kemunafikan dengan vulgar di pamerkan tanpa rasa malu di depan publik. Kepentingan dan ego adalah doktrin yang dipegang teguh dalam setiap langkah.
Saatnya para pemburu kursi kekuasaan kembali mengembalikan iklim politik kedalam tatanan yang menjunjung tinggi asas kekeluargaan dan kelapangan dada. Hendaknya, keutuhan dan persatuan bangsa tetap menjadi landasan setiap elit dalam tindakan politiknya. Menjauhi segala macam pemicu keretakan bangsa. Dan lebih mengedepankan solusi dalam persoalan yang hari ini tengah di hadapi masyarakat kita dalam setiap kampanye.


Read More......

Akan Seberapa biadabkah Obama???

Barack Obama? Hampir semua mata umat dibumi ini tertuju padanya. Presiden AS terpilih ini telah dilantik menjadi presiden ke 44 negara adikuasa tersebut pada tanggal 20 Januari 08. Issue perubahan dan anti perang yang dikumandangkannya selama kampanye, akan menjadi sesuatu hal yang ditunggu-tunggu realisasinya ditengah hegemoni AS atas dunia. Tak terkecuali umat Islam di seluruh penjuru dunia yang selama ini selalu menjadi sasaran kekerasan dan kedzaliman AS dengan berbagai kebijaknnya.
Afganistan, Irak, Iran, Suriah, Libya, Somalia, dan pembantaian di Palestina yang sampai saat ini masih terjadi, adalah segelintir potret kebiadaban pemerintah AS atas umat Islam. Akankah seorang Obama mampu memberi angin pedamaian bagi dunia ini dengan memberikan kebebasan bagi umat Islam dengan agama mereka? Banyak orang optimis dengan ketokohan Obama yang disejajarkan dengan mantan presiden kharismatik AS, Abraham Lincoln akan mampu mewujudkan perdamain itu. Dari berbagai survei di dunia, 67% masyarakat internasional pecaya Obama akan mampu melahirkan AS dengan wajah baru. (metrotvnews.com)
Keoptimisan yang sangat perlu untuk dipertanyakan. Optimis yang masih menyimpan tanda tanya yang sangat besar. Rasa optimis yang hanya bedasarkan janji dan sepak terjang Obama selama karier politiknya. Padahal sudah menjadi rahasia umum, dinegeri Paman Sam ini politik pragmatis plus dualisme sudah menjadi budaya yang mendarah daging bagi semua politikus.


Ini terlihat jelas dengan dualisme kebijakan pemerintah AS dalam menyikapi konflik Barat dan Islam. Khusus dalam menanggapi konflik Palestina Israel, Pemerintahan AS selalu pro dengan setiap kebijakan Israel. Sedangkan dalam menyikapi kebijakan pemerintah Palestina (Pemerintah Negara Islam secara umumnya) pemerintah AS senantiasa mengintervensi dengan memberikan stigma negatif terhadap kebijakan Pemerintah Muslim. Begitu juga dengan konflik kepemilikan Nuklir Iran yang akan menjadi salah satu agenda utama pemerintahan Obama, sedangkan keberadaan reaktor nuklir Israel tidak pernah tersentuh oleh tangan Internasional. Zionis Yahudi boleh dikatakan sudah berkuasa penuh atas pemerintahan AS.
Dan berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan kita melihat 90% yahudi Amerika adalah pemilih Obama, Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan AS, dua posisi yang sangat berpengaruh dalam pengambilan kebijakan luar negeri AS masing-masing akan di isi oleh Hillary Clinton dan Robert Gates, keduanya adalah sosok yang pro Israel, kepala staf gedung putih di bawah Obama adalah Rahm Emanuel seorang Yahudi Amerika. Dan masih banyak lagi fakta-fakta yang meragukan kita akan kemampuan Obama dalam mendamaikan dunia, khususnya terhadap Umat Islam.
Dalam sejarahnya Amerika adalah budak Zionis Israel. Setiap kebijakan Amerika tentang konflik Palestina selalu pro Israel, tidak peduli siapapun Presidennya. Tahun 1947 masa jabatan Harry S Trauman terjadi tarik ulur pembentukan negara Israel. Kemudian Presiden Trauman mengeluarkan statmen yang mendukung Rakyat Palestina. Sontak pernyataan tersebut menuai protes keras kelompok Yahudi. Dan hanya dalam hitungan hari Trauman berbalik mendukung sepenuhnya pendirian Negara Israel dan di sambut gembira Yahudi di seluruh dunia saat itu. Dan sebagai balas jasa, pemilihan berikutnya Trauman mendapatkan 74% suara Yahudi Amerika. (republika,18/01,2008) dan dukungan ini berlanjut sampai masa sekarang.
Sebegitu marahnya terhadap Bangsa Yahudi karena menjadi parasit dalam pemerintahan Amerika, seorang pemuda bernama Steven J Christopher asal negara bagian Michigan berniat membunuh Obama. Dalam pengakuannya ia menuliskan: “Saya ingin membunuh Obama sebagai domba korban. Ini tidak terkait dengan kebencian saya secara pribadi soal Obama. Dia berpidato bagus… Namun, saya tahu niat saya adalah demi kebaikan negara.”
“Saya bukan seorang rasialis dan itu bukan alasan utama saya membunuh dia. Niat saya didasarkan pada kebencian saya kepada parasit Yahudi yang membuat Amerika tunduk pada keinginan jahat mereka.” (kompas, 18/01,2008)
Sekarang, seberapakah kuatkah Obama dalam melawan arus lobi Yahudi?, seberapa tangguhkah Obama dalam bertahan dari desakan para donatur kampanyenya yang berasal dari Yahudi?, seberapa hebatkah Obama melawan 90% suara pendukungnya? Silahkan dianalisa sendiri.
Dan Maaf!!! Walau ia tinggal di Holywood, tapi dalam politik realnya, Amerika adalah cerminan terbalik dari Holywood. Ketika menonton realitas produksi Holywood, pandanglah dengan logika terbalik maka kita akan menemukan Amerika yang sebenarnya, The Real America.

Sebagai umat Islam akan sangat disangsikan sekali kualitas keimanan kita, jika Umat ini percaya begitu saja dengan Barack Obama akan mampu menyelesaikan urusan kita. Padahal Allah Ta’ala telah memperingatkan kita agar jangan pernah menyerahkan urusan Umat Islam kepada orang kafir. Sungguh celakalah Umat ini jika itu sampai terjadi.
Akan seberapa biadabkah Obama? Hanya waktu yang akan mampu menjawab semua ini.
Barack Obama? Ah!! Daripada memikirkannya saya lebih suka menahan sesak di dada ketika mendengar Khatib Jumat berbicara tentang masalah Palestina, menahan air mata ketika mendengarkan suara sendu Imam saat membaca Qunut Nadzilah setelah rukuk rakaat terakhir shalat wajib, suaranya seperti rintihan tangis Kaum Muslimin Palestina. [no_free_an]


Read More......